Selasa, 09 Januari 2018

AFIKSASI PEMBENTUKAN AJEKTIVA

Nama         : Hesti Ambarwati
Kelas          : PBSI 2016 A
NIM           : 166054

AFIKSASI PEMBENTUKAN AJEKTIVA
Menurut chaer (2008:169)kata yang berkategori ajektiva merupakan kata yang tidak perlu melalaui proses pemberian afiks dan berupa kata yang telah jadi atau bentuk yang berupa akar. Jadi, tidak sama dengan kata-kata berkategori nomina dan verba yang sebagian besar terlebih dahulu dibentuk dengan proses afiksasi.
Menurut Kridalaksana (1989) dan Alwi (1998) dalam buku Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan proses) menjelaskan bahwa ada sejumlah kata berafiks yang bentuk dasarnya berkategori makna (+ sifat) atau (+ keadaan) digolongkan juga sebagai kata berkelas ajektifa. Memang diakui juga bahwa kata bentukan tersebut bertumpang tindih dengan kategori lain.
Ciri gramatikal kosakata bahasa Indonesia ‘asli’ yang berkategori ajektifa memang tidak tampak. Hal ini berbeda dengan kosakata yang berasal dari unsur serapa bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Kita hanya mengenal kosakata berkategori ajektifa yang berasal ‘asli’ bahasa Indonesia dari segi semantik dan segi fungsi.
1.      Dasar ajektiva berprefiks asli Indonesia
Terdapat beberapa buku atau literatur yang menyatakan adanya ketumpangtindihan kata-kata berkelas ajektiva dengan kelas lain, seperti kelas nomina dan verba. Berikut kata-kata berafiks yang bertumpang tindih.
a)      Dasar Ajektiva Berprefiks pe-
Terdapat dua macam pembubuhan prefiks pe- pada dasar ajektiva, yaitu pertama yang diimbuhkan secara langsung dan kedua yang diimbuhkan melalui verba berafiks me-kan.
Dasar + pe                    pe-dasar
Dasar                           me-dasar-kan+pe-                   pe+dasar
Pemberian afiks pe- secara langsung dapat terjadi kalua dasar ajektiva itu memiliki komponen makna (+sikap batin) dan memahami makna gramatikal ‘yang memiliki sifat (dasar)’
Misalnya:
Pemalu                                    pendendam
Pemarah                      pembenci
           
Pemberian prefiks pe- melalui verba berklofiks me-kan dapat terjadi apabila dasar ajektiva memiliki komponen makna (+keadaan fisik) dan memberi makna gramatikal ‘yang menjadikannya (dasar)’
Misalnya:
Pembersih                    pengotor
Pemutih                       pelicin
b)      Dasar Ajektiva Berprefiks se-
Pemberian prefiks se- memberi makna gramatikal sama (dasar). Contoh setinggi B yang artinya sama tinggi dengan B. Prefriks se- dasar ajektifa bertugas membentuk tingkat perbandingan ‘sama’ atau sederajat dalam satu sistem perderajatan atau masuk dalam tingkat perbandingan.
-setinggi => sama tinggi = tingkat perbandingan sama
-tinggian =>  lebih tinggi = tingkat perbandingan lebih
- tertinggii =>  paling tinggi = tingkat perbandingan paling
c)      Dasar Ajektiva Berprefiks -an
Pemberian sufiks –an  memiliki makna gramtikal “lebih (dasar)”
Contoh : “pintaran” memiliki makna lebih pintar dan masih dalam tingkatan perbandingan.
d)      Dasar Ajektiva Berprefiks ter-
Pengimbuhan ter- pada semua dasar ajektifa memiliki makna gramatikal paling (dasar).
Contoh : “termahal” memiliki makna paling mahal dan masih dalam tingkatan perbandingan.
Ada kata yang berprefiks ter-  yang berkatergori ajektifa karena dapat didahului adverbia agak dan sangat  karena memiliki makna (+ keadaan)
Contoh : tertingal => agak tertinggal, sangat tertinggal.
e)      Dasar Ajektiva Berprefiks ke-an
Pengimbuhan ke-an terjadi apabila dasar ajektifa memiliki  komponen makna gramatikal (+ warna)
Contoh : Kehitaman, “agak hitam”, dan terkadang dipertegas dengan pengulangan atau reduplikasi misal : kehitam hitaman.
a.       Makna gramatikal : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+warna), (+rasa) atau (+ukuran)
Contoh:
Kehitaman       : terlalu hitam
Kekecilan        : terlalu kecil
Kekenyangan  : terlalu kenyang
b.      Makna gramatikal : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin)
Contoh:
Ketakutan       : hal takut
Kekecewaan    : hal kecewa
c.       Makna gramatikal : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+rasa fisik)
Contoh:
Kepanasan       : mengalami panas
Kedinginan     : mengalami dingin
f)       Dasar Ajektiva Berklofiks me-kan
Dasar me-kan memiliki makna gramatikal “menyebabkan jadi (dasar)” apabila memiliki komponen makna ( sikap batin).
Contoh :
Memalukan     : menyebabkan malu
Dasar ajektifa berklofiks me-kan mempunyai katrgori ajektifa dan verba dan dapat didahului oleh adverbia agak dan sangat dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek.
Contoh :
Agak mengkhawatirkan kami : sangat mengkhawatirkan kami.
g)      Dasar Ajektiva Berklofiks me-i
Dasar ajektifa me-i memiliki makna gramatikal “merasa (dasar) pada” apabila memiliki kompoen makna (+ rasa batin).
Contoh : mencintai “merasa cinta pada”
Dasar ajektifa dengan klofiks me-i memiliki kategori ajektifa dan verba, juga dapat didahului oleh adverbia agak dan sangat  dan sebagai verba dapat dikuti oleh objek, agak mengangumi permainanya artinya sangat mengagumi permainannya.
h)      Dasar Lain berkomponen makna (+keadaan)
Kosa kata ajektifa dalam bahasa Indonesia merupakan barang jadi tetapi banyak pula yang tidak. yang berkategori ajektifa itu memiliki komponenn makna    (+ bendaan) atau (+ tindakan).
Misalnya ajektifa merah dan kuning sehinga keduanya bisa didahului negasi bukan merah dan tidak merah sama - sama berterima. ajektifa marah dan benci juga memiliki komponen makna (+ tindakan). sebaliknya nomina untung dan rugi juga memiliki makna (+ keadaan) sehingga keduanya sama-sama dapat diberi negasi bukan dan tidak jadi bentuk-bentuk bukan untung dan tidak rugi sama-sama berterima. kata turunan merugikan bisa disebut verva juga termasuk kategori ajektifa.
i)       Pembentukan Ajektiva dengan “afiks” serapan
Menurut Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dan buku Pedoman Pembentukan Istilah (PPI) penyerapan istilah dari bahasa asing dilakukan secarah utuh bukan terpisah antara dasar dengan afiksnya. misalnya kata standar (huruf d-nya dibuang) standardition (-dition disesuaikan menjadi –disasi).begitu pula dengan object menjadi objek, objective menjadi objektif.
1)      Kata serapan dari Bahasa Inggris dan Belanda
Yang berkatergori ajektif dapat kita kenali dari “akhiran” (dalam tanda petik). seperti :
a.       If : aktif, pasif, objektif, konsultatif.
b.      Ik : patriotic, akademik, pluralistik.
c.       Is : teknis, akademis, kronologis.
d.      Istis : egistis, materialistis, optimis.
e.       Al : konseptual, gramatikal, individual.
f.        Il : komersil, idiil, prinsipil.
2)      Kata serapan dari Bahasa Arab
Yang berkategori ajektiva dapat kita kenali dari “akhiran” (dalam tanda petik)
a.     I            : islami, jasmani, rohani.
b.     Iah        : islamiah, jasmaniah, rohaniah.
c.     Wi        : duniawi, nabawi, surgawi.
d.     In         : muslimin, mukminin, hadirin.
e.     At         : hadirat, muslimat, mukminat.
DAFTAR RUJUKAN
Chaer, abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar