Nama : Hesti
Ambarwati
Kelas : PBSI
2016 A
NIM : 166054
Identifikasi
Morfem
A. MORF
Morf merupakan variasi morfem yang tidak
merubah makna aslinya. Morf juga dapat disebut sebagai satuan terkecil yang
masih belum jelas maknanya dari morfem terikat, entah ia akan menjadi sebuah
alomorf atau menjadi morfem.
Contoh:
Me + nyanyi = menyanyi
Ber + sepeda = bersepeda
Di + dengar = didengar
B. MORFEM
Morfem adalah satuan Bahasa terkecil yang
mengandung makna secara leksikal maupun gramatikal. Morfem dibagi menjadi dua
jenis yaitu morfem bebas dan morfem terikat (Arifin, zaenal:2009).
1.
Morfem bebas
Morfem
bebas merupakan morfem yang dapat berdiri sendiri.
2.
Morfem terikat
Morfem
terikat merupakan morfem yang mendapatkan suatu imbuhan dan dapat dipotong
menjadi dua morfem, tiga morfem, atau lebih.
Contoh
:
Morfem
bebas = tidur,
dengar, nyanyi
Morfem
terikat:
Morfem bebas = tidur
Morfem terikat = ter + tidur = tertidur
di + tidur + kan = ditidurkan
meN + tidur + kan = menidurkan
Morfem bebas = dengar
Morfem terikat = di + dengar = didengar
meN + dengar =
mendengar
ter + dengar =
terdengar
men + dengar + kan = mendengarkan
Morem bebas = nyanyi
Morfem terikat = ber + nyanyi = bernyanyi
meN + nyanyi =
menyanyi
meN + nyanyi + kan= menyanyikan
C. ALOMORF
Alomorf merupakan suatu morfem yang
wujudnya berbeda, tapi mempunyai fungsi dan makna yang sama (Arifin,
zaenal:2009).
Dapat diartikan secara singkat, bahwa
alomorf merupakan variasi bentuk suatu morfem yang berubah atau mengalami
peleburan karena lingkungan.
Kata dasar yang menggunakan konsonan awal
K/T/S/P maka akan dapat mengalami peleburan.
Contoh:
K : meng + kaji = mengkaji
S : men +
nyanyi = menyanyi
P : meny +
sapu = menyapu
D. KATA
Kata merupakan satuan ujaran bebas terkecil
yang bermakna (Muslich, masnur:2010).
Perbedaan kata dengan morfem, yaitu:
1.
Kata memungkinkan untuk disisipi oleh
ujaran lain.
2.
Morfem, jika dibandingkan dengan morfem
terdapat beberapa morfem yang demikian eratnya sehingga diantaranya tidak dapat
disisipi oleh satuan ujaran lain.
E. JENIS
MORFEM
Berikut
merupakan jenis morfem (Chaer, abdul:2008)
a. Berdasarkan kebebasannya untuk dapat digunakan
langsung
Morfem memiliki dua macam, yaitu mofem bebas dan
morfem terikat.
1. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri
sendiri yang berupa kata dasar, seperti makan,
minum atau tidur. Contoh tersebut merupakan satuan terkecil yang memiliki
makna.
2. Morfem terikat adalah morfem yang harus terlebih
dahulu bergabung dengan morfem lain untuk dapat digunakan dalam pertuturan.
Semua afiks dalam Bahasa Indonesia termasuk morfem terikat.
Contoh:
Juang :
berjuang, pejuang
Henti :
berhenti, perhentian, menghentikan
Contoh :
Menulis : morfem bebas : tulis
Morfem terikat : meN-
Membuang:
morfem bebas : buang
Morfem teriat :
mem-
Pedagang : morfem bebas :
dagang
Morfem terikat : pe-
b. Berdasarkan keutuhan bentuknya
1. Morfem utuh merupakan satu kesatuan yang utuh,semua
morfem dasar bebas maupun terikat serta prefiks,infiks dan surfiks termasuk
morfem utuh.
2. Morfem terbagi merupakan morfem yang fisiknya
terbagi atau disispi morfem lain.
c. Berdasarkan kemungkinan menjadi dasar dalam
pembentukan kata
1. Morfem dasar adalah morfem yang dapat menjadi dasar
dalam suatu proses morfologi. Misalnya beli, makan, merah.
2. Morfem afiks merupakan kata yang tidak dapat
menjadi dasar,melainkan hanya sebagai pembentuk . Misalnya, ke-an,
per-an, dan pe-an.
d. Berdasarkan jenis fonem yang membentuknya
1.
Morfem
segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem – fonem segmental yaitu morfem
yang berupa bunyi yang dapat disegmentasikan. Misalnya lihat, ter-, sikat, -lah.
2. Morfem suprasegmental adalah morfem yang terbentuk
dari nada, tekanan, durasi, dan intonasi. Dalam Bahasa Indonesia tidak
ditemukan morfem suprasegmental ini, namun dalam Bahasa Cina, Thai dan Burma
morfem itu dipakai.
e. Berdasarkan kehadirannya secara kongkrit
1. Morfem wujud adalah morfem yang ada secara nyata.
2. Morfem tan wujud adalah morfem yang tidak ada dalam
bahasa Indonesia tetapi ada dalam bahasa Inggris.
f.
Berdasarkan
ciri semantik
1. Bermakna leksikal karena di dalam dirinya, secara
inheren tidak memiliki makna.
Contoh:
Makan,
pulang dan pergi memiliki makna
secara leksikal.
2. Tak bermakna leksikal karena mendapatkan afiks
seperti {ber-}, {ke}, dan {ter-} serta tidak dapat menjadi unsur dalam
pertuturan.
F. MORFEM
DASAR, BENTUK DASAR, PANGKAL, AKAR, LEKSEM
Istilah
Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Sebuah
morfem dasar dapat menjadi bentuk dasar dalam morfologi karena dapat diberi
afiks tertentu dalam proses afiksasi, dapat diulang dalam proses reduplikasi,
atau dapat digabung dengan morfem yang lain. Dalam Morfem dasar yaitu morfem
dasar bebas dan morfem dasar terikat dan afiks.
Istilah
bentuk dasar digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar suatu
proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat
juga berupa gabungan dari morfem.
Istilah
pangkal atau stem digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses
pembentukan kata inflektif. Hal ini terjadi pada bahasa-bahasa fleksi seperti,
bahasa arab, bahasa itali, bahasa jerman, bahasa prancis. Dalam Bahasa
Indonesia pembentukan kata inflektif hanya pada proses pembentukan verba.
Istilah
akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih
jauh lagi. Maksudnya, akar adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiknya
ditanggalkan. Misalnya kata memberlakukan terdiri atas prefiks me-,
ber-, dan sufiks –kan, maka yang tersisa adalah kata akar laku.
Istilah
leksem digunakan dalam dua bidang kajian linguistic, yaitu bidang morfologi dan
bidang semantic. Dalam bidang morfologi digunakan untuk memenuhi konsep “bentuk
yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi. Sedangkan bidang semantic
leksem adalah satuan bahasa yang memiliki sebuah makna.
G. MORFEM
AFIKS
Morfem
afiks atau imbuhan adalah bentuk morfem terkecil yang mempunyai arti dan selalu
berimbuhan atau digabung dengan morfem bebas atau kata dasar, namun biasanya
juga berupa morfem terikat.
Proses
memberi imbuhan atau afiksasi dapat menyebabkan perubahan bunyi, fungsi kata
dan makna. Dilihat dari posisinya dapat dibedakan atas:
a. Prefiks
(awalan)
Prefiks
(awalan) adalah imbuhan yang diletakkan didepam kata dasar. Di dalam Bahasa
Indonesia terdapat beberapa awalan, yaitu ber-, per-, meng-, di-, ter-, ke-,
dan se-. Contoh :
1. Bertemu,
berjalan, berdoa,
2. Persegi
3. Menggali,
meninju
4. Dilipat,
ditiru
5. Tertawa,
terlihat
6. Kesatu,
kedua
7. Setempat,
sedesa
b. Infiks
(sisipan)
Sisipan
adalah imbuhan yang diletakan ditengah kata dasar. Seperti, -el, -em, -er,
dan –in. contoh kata:
1. Getar
= gemetar
2. Gigi
= gerigi
3. Geger
= gelegar
4. Kelut
= kemelut
c. Sufiks
(akhiran)
Akhiran
adalah imbuhan yang diletakkan pada akhir kata dasar. Seperti, -i, -kan,
-an, -man, -wan, -wati, dan –nya.contoh kata:
1. Ambil
= ambilkan
2. Seni
= seniman
3. Warta
= wartawan
4. Minum
= minuman
5. Kecil
= kecilkan
d. Konfiks
(imbuhan terbelah)
Komfiks
adalah imbuhan yang diletakkan pada awal dan akhir kata dasar. Contoh kata:
1. Ke-…-an
= keuangan, kesakitan, kebaikan.
2. Ber-…-an
= berterbangan, berhamburan, berjatuhan
3. Peng-…-an
= pengalaman, pengambilan
4. Per-…-an
= pergaulan, pertemuan
e. Simulfiks
(imbuhan gabung)
Simulfiks
(imbuhan gabung) adalah dua imbuhan atau lebih yang ditambahkan pada kata dasar
namun tidak sekaligus, tetapi secara bertahap. Contoh kata :
1. Member-kan
= memberlakukan, memberdayakan
2. Laku
dan daya = berlakukan, berdayakan
DAFTAR RUJUKAN
Muslich,
masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Arifin,
Zaenal, Junaiyah. 2009. Morfologi. Jakarta: PT Gramedia
Chaer,
abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia
(Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar