Nama :
Hesti Ambarwati
Kelas :
PBSI 2016 A
NIM : 166054
JENIS
MORFEM BAHASA INDONESIA
Berikut
merupakan jenis-jenis morfem Bahasa Indonesia (Muslich, masnur:2010)
1. Jenis
morfem berdasarkan kemampuan berdistribusi.
Morfem
distribusi merupakan morfem berulang yang memiliki dua variasi, yaitu ada yang bergantung dan ada yang bebas.
a) bentuk
bergantung, ia tidak dapat berdiri sendiri dan dapat tak memiliki makna jika ia
berdiri sendiri.
Contoh:
Beranak pinak : morfem pinak tak dapat
berdiri sendiri karena tak akan mempunyai makna. Sedangkan morfem beranak
dapat memiliki makna jika berdiri sendiri. Oleh karena itu ia akan selalu
bergantung pada morfem beranak.
Contoh yang lain yaitu kering keronta, tua renta dan
gelap gulita.
b) bentuk
bebas, ia dapat berdiri sendiri meskipun dipisah oleh kata yang mengikutinya.
Contoh:
Jual-beli : kata jual dan beli apabila dipisahkan tak akan merubah makna dan dapat berdiri
sendiri-sendiri.
2. Jenis
morfem berdasarkan produktivitasnya.
Morfem
afiks dibagi menjadi empat, yaitu:
a) Morfem
afiks produktif membentuk kata-kata baru. Misalnya morfem afiks ke-an,
karena dapat membentuk kata-kata baru.
Contoh:
Ke + aman + an : keamanan
Ke + selamat + an : keselamatan
Ke + makmur + an : kemakmuran
Ke + sehat + an : kesehatan
a) Morfem
afiks tidak produktif
Morfem yang dialami oleh
afiks {-em-}, {-el-}, dan {-er-}contohnya yaitu gemetar,
telunjuk, dan gergaji. Morfem-morfem tersebut sekarang sama sekali sudah tak
produktif lagi, dan hanya digunakan pada Bahasa Melayu dahulu.
b) Morfem
afiks sedang cenderung produktif
Morfem afiks yang
cenderung meningkat pemakaiannya dalam bentuk kata kata baru misalnya morfem
afiks {-is}, {-isme} dan {-(n)isasi}
Berikut ini merupakan
contoh dari morfem-morfem serapan tersebut.
Contoh morfem afiks {-is}
Psikologis
Strategis
Astronomis
Contoh morfem afiks {-isme}
Patriot + isme : patriotisme
Plural + isme :
pluralisme
Nasional + isme : nasionalisme
Contoh morfem afiks {-(n)isasi}
Global + isasi : globalisasi
Aktual + isasi : aktualisasi
Lokal + isasi : lokalisasi
c) Morfem
cenderung tak produktif
Morfem yang cenderung tak
produktif adalah morfem yang menurun pemakaiannya. Misalnya yang saat ini turun
pemakaiannya yaitu morfem {ber-}.
Contoh dalam kalimat:
Adik sedang bermain bola.
Kata bermain saat ini
dalam pengucapan maupun tulisan sudah jarang digunakan.
Kalimat yang sering
digunakan yaitu
Adik sedang main bola.
3. Jenis
morfem berdasarkan relasi antar unsurnya.
Dalam jenis ini, terdapat unsur fonem yang
tidak dapat dipisahkan. Unsur tersebut dibagi menjadi dua yaitu morfem utuh dan
morfem terbelah.
a)
Morfem utuh merupakan morfem yang deretan
fonemnya tidak terpisah.
Contoh
Se+tiap
: setiap
Ber+main : bermain
Mem+per+jelas : memperjelas
Me
+ makan : memakan
Kesimpulannya,
morfem yang mempunyai prefiks dan infiks lalu bertemu dengan morfem bebas maka
ia disebut dengan morfem utuh karena masih satu kesatuan.
b)
Morfem terbelah merupakan morfem yang
terpisah dengan pemakaiannya, Contoh
Ke
+ sukses + an :kesuksesan
Ke
+ berhasil + an :keberhasilan
Di
+ laku+ an : dilakukan
Me
+ laku + an : melakukan
Kesimpulannya,
morfem yang mempunyai prefiks dan sufiks maka ia disebut dengan morfem terikat
karena tidak satu kesatuan.
4. Jenis
morfem berdasarkan sumbernya.
Pada
Bahasa Indonesia terdapat morfem-morfem afiks yang dapat digolongkan menjadi
empat kelompok, yaitu prefiks (meN-), (ber-), (peN-), dsb. Infiks (-el-),
(-em-), dan (-er-). Sufiks (-an), (-kan), dan (-i).
Konfiks (pe-an), (ke-an), (per-an) dsb.
Berikut
merupakan morfem afiks serapan yang dipakai dalam Bahasa Indonesia.
Morfem-morfem afiks seperti (ke-) dalam ketawa, (pra-) dalam
prasangka, (-wan) dalam pragawan, (bi-) dalam bilingual,
(non-) dalam nonpolitik, (-is) dalam pianis, (-isme) dalam
kolonialisme, dan (mega-) dalam megaproyek.
Morfem-morfem
afiks tersebut dapat menjadi keluarga afiks Bahasa Indonesia karena dalam
pemakaiannya sudah dapat mengikuti aturan-aturan Bahasa Indonesia yang ada dan
mempunyai arti secara gramatikal (dan tidak mempunyai arti leksikal). Afiks
asing yang sudah masuk dan menjadi keluarga
Bahasa Indonesia yaitu bentuk (-is) dalam Pancasialais dan
(-isasi) dalam turnisasi.
Lain
halnya dengan afiks (-us) dalam politikus dan (-if) dalam sportif. Bentuk
tersebut belum mampu melekat pada Bahasa Indonesia asli karena ia hanya mampu melekat
pada kata baku dalam Bahasa asing. Oleh karena itu afiks (-us) dan (-if) belum
dapat dikatakan sebagai “keluarga” dari afiks Bahasa Indonesia.
5. Jenis
morfem berdasarkan jumlah fonem yang menjadi unsurnya.
Dalam Bahasa Indonesia
terdapat morfem-morfem yang berunsur fonem. Morfem yang berunsur satu fonem
disebut monofonemis, dan morfem yang
berunsur lebih dari satu fonem disebut polifonemis.
a)
Morfem monofonemis: (satu fonem) morfem {-i}
dalam memetiki dan {a-} dalam amoral.
b)
Morfem polofonemis :
Dua
fonem : {-an}, {di-},
{ke-}
Tiga
fonem : {ber-}, {meN-},
{dua}, {itu}, {api}
Empat
fonem : {satu}, {baik},
{daki}
Lima
fonem : {serta},
{makin}, {berontak}
Enam
fonem : {bentuk},
{sambil}, {sembuh}
Tujuh
fonem : {bentrok},
{cokelat}
Delapan
fonem : {semboyan},
{kerontang}
Sembilan
fonem : {penasaran},
{sederhana}, {terselenggara}
Sepuluh
fonem : {halilintar},
{penasaran}, {semenanjung}
Jika dilihat dari frekuensi, maka
morfem-morfem polifonemis yang berunsur empat, lima, dan enam fonemlah yang
paling banyak frekuensinya. Sedangkan morfem yang berunsur dua, tiga, tujuh,
delapan, Sembilan, dan sepuluh fonem berfrekuemsi dibawahnya.
6. Jenis
morfem berdasarkan keterbukaannya bergabung dengan morfem lain.
Pada morfem ini, terdapat
dua morfem yaitu morfem terbuka dan morfem tertutup. Dalam pemakaiannya, morfem-morfem
bahasa Indonesia ada yang mempunyai kemungkinan bergabung dengan morfem lain,
tetapi ada juga yang tidak. Morfem(meN-), (ber-), dan (di-), semuanya
tergolong morfem prefiks, morfem-morfem itu mempunyai perbedaan.
Misal
(morfem terbuka)
Morfem (meN-), dan
(ber-) masih membuka kemungkinan digabungi morfem prefiks lain seperti
morfem (di-) menjadi dimengertikan, diberhentikan, memberitahukan dan memberhentikan.
(morfem
tertutup)
Menongkat, menjarum
tidak dapat menjadi morfem terbuka karena dalam penggunaannya yaitu hanya dapat
menggunakan bentuk urai, misalnya menjahit dengan jarum atau memukul dengan
tongkat.
Jadi,
morfem tertutup adalah morfem yang tidak mendapatkan afiksasi.
7. Jenis
morfem berdasarkan bermakna tidaknya.
Pada dasarnya, bermakna
atau tidaknya suatu morfem dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
yang bermakna dan kelompok yang tak bermakna. Morfem kelompok yang bermakna
–sesuai dengan namanya- selalu bermakna dan dapat dicari maknanya di dalam
kamus. Contohnya yaitu lapar, kuda, merah, buku, dsb. Karena ia bermakna
dan dapat dicari didalam kamus maka bisa disebut morfem leksikal.
Kelompok morfem tak
bermakna, ia tidak mempunyai makna sendiri. Contohnya (ter-), (di-), (peN-), (se),
(-i), (-an), (-el-) dsb. Kelompok kedua ini baru diketahui maknanya bila sudah
berada dalam konstruksi yang lebih besar, atau dikatakan telah melekat pada
bentuk-bentuk dasar, bentuk dari kelompok pertama. Oleh karena itu,
morfem-morfem ini disebut morfem gramatikal.
DAFTAR RUJUKAN
Muslich,
masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar