Nama :
Hesti Ambarwati
Kelas :
PBSI 2016 A
NIM :
166054
MORFOFONEMIS
Morfofonemik mempelajari
perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan
morfem lain (Ramlan, 1985:75). Menurut Sumadi (2010:140) morfofonemik ialah
“perubahan fonem” yang terjadi akibat bertemunya morfem yang satu dengan morfem
yang lain. Sedangkan menurut (Chaer, 2008: 43) menjelaskan bahwa morfofonemik
(disebut juga morfonologi atau morfofonologi) adalah kajian mengenai terjadinya
perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai dari adanya proses morfologi, baik
proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Umpamanya dalam
proses pengimbuhan sufik –an pada dasar hari akan muncul bunyi [y], yang dalam
ortografi tidak dituliskan, tetapi dalam ucapan dituliskan.
a) Jenis Perubahan
Menurut Chaer, 2008: 43
dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem berkenaan dengan
proses morfologi ini. Di antaranya adalah :
a. Pemunculan
fonem, yakni munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang pada mulanya
tidak ada. Misalnya, dalam proses pengimbuhan prefiks me- pada dasar baca akan
memunculkan bunyi sengau [m] yang semula tidak ada.
Proses pengimbuhan sufiks
-an pada dasar hari akan muncul bunyi semi vocal [y]
b. Pelepasan
fonem, yakni hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. Misalnya, dalam
proses pengimbuhan prefiks ber- pada dasar renang, maka bunyi [r] yang ada pada
prefiks ber- dilesapkan.
c. Peluluhan
fonem, yakni luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam
suatu proses morfologi. Misalnya, dalam
pengimbuhan prefiks me- pada dasar sikat, maka fonem [s] pada kata sikat itu
diluluhkan dan disenyawakan dengan fonem nasa /ny/.
d. Perubahan
fonem, yakni berubahnya sebuah fonem atau sebuah bunyi, sebagai akibat
terjadinya proses morfologi.
e. Pergeseran
fonem, yakni berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku kata ke dalam suku
kata yang lain.
b)
Morfofonemis
dalam pembentukan kata Bahasa Indonesia
Mofofonemik dalam
pembentuk kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam
proses reduplikasi dan komposisi hampir tidak ada. Dalam proses afiksasipun
terutama, hanya dalam prefiksasi-prefiksasi tertentu (Chaer, 2008: 46), seperti
:
a.
Morfofonemik
Prefiks ber-
Ada empat peristiwa morfofonemik pada
prefiks ber-, yaitu :
·
Prefiks ber-
berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/
Misalnya :
·
Prefks ber- berubah
menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan
/er/
Misalnya :
· Prefiks
ber- berubah menjadi bel- jika ditambahkan pada dasar tertentu
Misalnya :
Prefiks
ber- tidak berubah bentuknya apabila digunakan dengan dasar di luar kaidah 1-3
di atas.
Misalnya :
b.
Morfofonemik
Prefiks me-
Ada tujuh peristiwa morfofonemik pada
prefiks me-, yaitu :
Jika
ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /k/,
/h/, /x/ bentuk meng- tetap meng-/men-/.
Misalnya
:
Me
+ usir : mengusir
Me
+ ambil ; mengambil
Jika
prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/, /m/, /n/,
/r/, /y/, atau /w/, bentuk tersebut akan menjadi me-
Misalnya :
Me+rawat :
merawat
Me+nanti :
menanti
Jika penambahan fonem,
yakni penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge’. Penambahan fonem nasal /m/
terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonnan /b/ dan /f/
Me + baca : membaca
Me +fokus : memfokus
Jika penambahan fonem
nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d.
Me + dengar : mendengar
Me + duga : menduga
c.
Morfofonemik
Prefiks pe-
Morfofonemik dalam proses
pengimbuhan dengan prefiks pe- dan konfiks pe-an sama dengan morfofonemik yang
terjadi dalam proses pengimbuhan dengan me-, yaitu (a) pengekalan fonem, (b)
penambahan fonem, dan (c) peluluhan fonem.
1.
Pengekalan
fonem, artinya tidak ada perubahan fonem.
Contoh:
Pelatihan
2. Penambahan fonem,
yakni menambahkan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/ antara prefiks dan bentuk
dasar.
Contoh:
Pembacaan
Pendengaran
Penggalian
Pengecoran
3. Peluluhan Fonem,
apabila prefiks pe- (atau pe-an) diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali
dengan konsonan bersuara /s.k,p, dan t/
Contoh:
Penyaringan
Pengumpulan
c) Bentuk Nasal dan Tak Bernasal
Hadir
dan tidaknya bunyi nasal tidak selamanya mengikuti kaidah morfofonemik. Hadir
dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan katabahasa Indonesia sangat erat
berkaitan dengan tiga hal, yaitu (1) tipe verba yang “menurunkan” bentuk kata
itu; (2) upaya pembentukan kata sebagai istilah; (3) upaya pemberian makna
tertentu. (Chaer, 2008: 56)
a. Kaitan
dengan tipe verba
Dalam
bahasa Indonesia ada empat macam tipe verba dalam kaitannya dengan proses
nasalisasi, yaitu (a) verba berprefiks me- (termasuk verba me-kan, dan me-i);
(b) verba berprefiks me- dengan pangkal per, per-kan, dan per-I; (c) verba
berprefiks ber-; dan (d) verba dasar (tanpa afiks apa pun).
Kaidah
penasalan untuk verba berprefiks me- (dengan nomina pe- dan nomina pe-an) yang
diturunkannya adalah sebagai berikut:
|
Afiks
|
Nasal
|
Fonem
Awal Bentuk Dasar
|
|
Me-
Me-kan
Me-i
|
1.
Ø
2.
M
3.
N
4.
Ny
5.
ng
|
l,
r, w, y, m, n, ny, ng
b,
p, f
d,
t
s,
c, j
k,
g, h, k
h,
a, l, u, e, o
|
|
|
6.
nge
|
Eka
suku
|
Dari
bagai dapat dilihat bahwa dalam proses pengimbuhan afiks me, me-kan, dan me-i
akan terjadi.
1. Nasal
tidaka akan muncul bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /l, r, w, y, m, n,
ny, atau ng/.
Contoh
: meloncat, peloncat, peloncatan
Merawat, perawat, perawatan
2.
Akan muncul nasal /m/ bila bentuk
dasarnya mulai dengan fonem /b, p, dan f/.
Contoh
: membina, prmbina, prmbinaan
Memfitnah, pemfitnah, pemilih
3. Akan
muncul nasal /n/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /d, atau t/.
Contoh
: mendengar, pendengar, pendengaran
Mendapat, prndapat, pendapatan
Menemukan, penemu, penemuan
4. Akan
muncul nasal /ny/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /s, c, dan j/.
Contoh
: menyambut, penyambut, penyambutan
Menyakiti, penyakit, penyakitan
Menyjahit, penyjahit, penyjahitan
5. Akan
muncul nasal /ng/ bila bentuk dasarnya diawali dengan fonem /k, g, h, kh, a, l,
u, e, atau o/.
Contoh
: mengirim, pengirim, pngiriman
Mengkhianati, pengkhianat,
pengkhianatan
Mengadu, pengadu, pengaduan
Mengelak, pengelak, penggelakan
6. Akan
muncul nasal /nge-/ apabila bentuk dasarnya berupa kata ekasuku.
Contoh
: mengetik, pengetik, pengetikan
mengelas, pengelas, pengelasan
mengecat, pengecat, pengecatan
mengebom, pengebom, pengeboman
DAFTAR
RUJUKAN
Chaer, abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan
Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar