Rabu, 10 Januari 2018

MORFOFONEMIS

Nama         : Hesti Ambarwati
Kelas          : PBSI 2016 A
NIM           : 166054

MORFOFONEMIS
Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1985:75). Menurut Sumadi (2010:140) morfofonemik ialah “perubahan fonem” yang terjadi akibat bertemunya morfem yang satu dengan morfem yang lain. Sedangkan menurut (Chaer, 2008: 43) menjelaskan bahwa morfofonemik (disebut juga morfonologi atau morfofonologi) adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Umpamanya dalam proses pengimbuhan sufik –an pada dasar hari akan muncul bunyi [y], yang dalam ortografi tidak dituliskan, tetapi dalam ucapan dituliskan.
a)      Jenis Perubahan
Menurut Chaer, 2008: 43 dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem berkenaan dengan proses morfologi ini. Di antaranya adalah :
a.       Pemunculan fonem, yakni munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Misalnya, dalam proses pengimbuhan prefiks me- pada dasar baca akan memunculkan bunyi sengau [m] yang semula tidak ada.
Contoh : me+baca                   membaca
Proses pengimbuhan sufiks -an pada dasar hari akan muncul bunyi semi vocal [y]
Contoh: hari + an                     hariyan.
b.      Pelepasan fonem, yakni hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. Misalnya, dalam proses pengimbuhan prefiks ber- pada dasar renang, maka bunyi [r] yang ada pada prefiks ber- dilesapkan.
Contoh: ber + renang              berenang
c.       Peluluhan fonem, yakni luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologi.  Misalnya, dalam pengimbuhan prefiks me- pada dasar sikat, maka fonem [s] pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan fonem nasa /ny/.
Contoh: me + sikat                  menyikat
d.      Perubahan fonem, yakni berubahnya sebuah fonem atau sebuah bunyi, sebagai akibat terjadinya proses morfologi.
Contoh : ber + ajar                  belajar
e.       Pergeseran fonem, yakni berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku kata ke dalam suku kata yang lain.
Contoh :lompat + I                  me.lom.pati
b)     Morfofonemis dalam pembentukan kata Bahasa Indonesia
Mofofonemik dalam pembentuk kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi dan komposisi hampir tidak ada. Dalam proses afiksasipun terutama, hanya dalam prefiksasi-prefiksasi tertentu (Chaer, 2008: 46), seperti :
a.      Morfofonemik Prefiks ber-
Ada empat peristiwa morfofonemik pada prefiks ber-, yaitu :
·                       Prefiks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/
Misalnya :
Ber + ransel                 beransel
Ber + rupa                   berupa
·                       Prefks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/
Misalnya :
ber + kerja                    bekerja
ber + serta                   beserta
·                       Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika ditambahkan pada dasar tertentu
Misalnya :
ber + ajar                     belajar
Prefiks ber- tidak berubah bentuknya apabila digunakan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.
Misalnya :
ber + layar                   berlayar
ber +main                    bermain
ber+peran                    berperan
b.      Morfofonemik Prefiks me-
Ada tujuh peristiwa morfofonemik pada prefiks me-, yaitu :
Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /k/, /h/, /x/ bentuk meng- tetap meng-/men-/.
Misalnya :
Me + usir         : mengusir
Me + ambil      ; mengambil
Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/, /m/, /n/, /r/, /y/, atau /w/, bentuk tersebut akan menjadi me-
Misalnya :
Me+rawat        : merawat
Me+nanti         : menanti
Jika penambahan fonem, yakni penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge’. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonnan /b/ dan /f/
Me + baca       : membaca
Me +fokus       : memfokus
Jika penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d.
Me + dengar    : mendengar
Me + duga       : menduga
c.       Morfofonemik Prefiks pe-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks pe- dan konfiks pe-an sama dengan morfofonemik yang terjadi dalam proses pengimbuhan dengan me-, yaitu (a) pengekalan fonem, (b) penambahan fonem, dan (c) peluluhan fonem.
1.      Pengekalan fonem, artinya tidak ada perubahan fonem.
Contoh:
Pe+latih                 pelatih
                                 Pelatihan
2.      Penambahan fonem, yakni menambahkan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/ antara prefiks dan bentuk dasar.
Contoh:
Pe+baca                 pembaca
                                Pembacaan
Pe+dengar             pendengar
                              Pendengaran
Pe+gali                  penggali
                              Penggalian
Pe+cor                   pengecor
                              Pengecoran
3.      Peluluhan Fonem, apabila prefiks pe- (atau pe-an) diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan bersuara /s.k,p, dan t/
Contoh:
Pe + saring             penyaring
                              Penyaringan
Pe + kumpul          pengumpul
                              Pengumpulan
c)      Bentuk Nasal dan Tak Bernasal
Hadir dan tidaknya bunyi nasal tidak selamanya mengikuti kaidah morfofonemik. Hadir dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan katabahasa Indonesia sangat erat berkaitan dengan tiga hal, yaitu (1) tipe verba yang “menurunkan” bentuk kata itu; (2) upaya pembentukan kata sebagai istilah; (3) upaya pemberian makna tertentu. (Chaer, 2008: 56)
a.       Kaitan dengan tipe verba
Dalam bahasa Indonesia ada empat macam tipe verba dalam kaitannya dengan proses nasalisasi, yaitu (a) verba berprefiks me- (termasuk verba me-kan, dan me-i); (b) verba berprefiks me- dengan pangkal per, per-kan, dan per-I; (c) verba berprefiks ber-; dan (d) verba dasar (tanpa afiks apa pun).
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- (dengan nomina pe- dan nomina pe-an) yang diturunkannya adalah sebagai berikut:
Afiks
Nasal
Fonem Awal Bentuk Dasar
Me-
Me-kan
Me-i
1. Ø
2. M
3. N
4. Ny
5. ng

l, r, w, y, m, n, ny, ng
b, p, f
d, t
s, c, j
k, g, h, k
h, a, l, u, e, o

6. nge
Eka suku
Dari bagai dapat dilihat bahwa dalam proses pengimbuhan afiks me, me-kan, dan me-i akan terjadi.
1.      Nasal tidaka akan muncul bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /l, r, w, y, m, n, ny, atau ng/.
Contoh : meloncat, peloncat, peloncatan
             Merawat, perawat, perawatan
2.      Akan muncul nasal /m/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /b, p, dan f/.
Contoh : membina, prmbina, prmbinaan
              Memfitnah, pemfitnah, pemilih
3.      Akan muncul nasal /n/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /d, atau t/.
Contoh : mendengar, pendengar, pendengaran
              Mendapat, prndapat, pendapatan
              Menemukan, penemu, penemuan
4.      Akan muncul nasal /ny/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /s, c, dan j/.
Contoh : menyambut, penyambut, penyambutan
              Menyakiti, penyakit, penyakitan
              Menyjahit, penyjahit, penyjahitan
5.      Akan muncul nasal /ng/ bila bentuk dasarnya diawali dengan fonem /k, g, h, kh, a, l, u, e, atau o/.
Contoh : mengirim, pengirim, pngiriman
              Mengkhianati, pengkhianat, pengkhianatan
              Mengadu, pengadu, pengaduan
              Mengelak, pengelak, penggelakan
6.      Akan muncul nasal /nge-/ apabila bentuk dasarnya berupa kata ekasuku.
Contoh : mengetik, pengetik, pengetikan
              mengelas, pengelas, pengelasan
              mengecat,  pengecat, pengecatan
              mengebom, pengebom, pengeboman
DAFTAR RUJUKAN
Chaer, abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar