Selasa, 09 Januari 2018

KLASIFIKASI KATA, PENDAPAT BERBAGAI MACAM AHLI “KLASIFIKASI KATA”, KELAS TERBUKA DAN KELAS TERTUTUP

Nama         : Hesti Ambarwati
Kelas          : PBSI 2016 A
NIM           : 166054

KLASIFIKASI KATA, PENDAPAT BERBAGAI MACAM AHLI “KLASIFIKASI KATA”, KELAS TERBUKA DAN KELAS TERTUTUP
A.    Klasifikasi Kata
Secara Etimologi Kata “kata” dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Ngapak kathā. Dalam bahasa Sanskerta,  kathā sebenanya bermakna “konversasi”, “bahasa”, “cerita”atau “dongeng”. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantic menjadi “kata”.Konsep kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguisti adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat. Batasan atau konsep itu menyiratkan dual hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dalam di selipi atau di selang oleh fonem lain. Jadi, misalnya, kata sikat, urutan fonemnya adalah /s/, /i/, /k/, /a/, dan /t/ urutan itu tidak dapat di ubah menjadi /s/, /k/, /a/, /i/, dan /t/. atau di selipi fonem lain, misalnya, menjadi /s/, /i/, /u/, /k/, /a/, dan /t/ keduanya setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat di isi atau di gantikan oleh kata lain, atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya.
Ciri pertama, kiranya tidak menimbulkan masalah, tetapi ciri kedua menimbulkan masalah karena ternyata kebebasan berpindah setiap kata tidak sama. Ada yang dapat berpindah secara bebas, tetapi ada pula yang terikat dengan satuannya yang lebih besar di dalam kalimat. Kata barangkali dan mungkin memiliki kebebasan yang lebih daripada kata tetapi dan kata kepada.
Adanya kebebasan dan ketidakbebasan ini menunjukan bahwa kata-kata itu memiliki karakter, ciri, atau sifat yang berbeda, sehingga dalam linguistik biasa dilakukan klasifikasi, penggolongan, atau kategorisasi kata-kata.
  1. Pendapat Para Ahli “Klasifikasi Kata”
Chaer, 2008: 63 kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas dalam kalimat.
Berikut merupakan klasifikasi kata menurut Chaer, 2008:63-104
a)      Kelas Terbuka
1.      Nomina yaitu kata benda, ciri utama dilihat dari adverbia pendampingnya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas kata nomina.
Pertama, tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak. 


Kucing
*tidak              Meja
                                    Pensil              

Kedua, tidak dapat didahului oleh adverbia derajat (agak, lebih, sangat, dan paling).
Kucing
*agak               Meja
                                    Pensil              

Ketiga, tidak dapat didahului oleh adverbial keharusan wajib.
Kucing
*wajib             Meja
                                    Pensil  
Keempat, dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah, satu, sebuah, sebatang.
Misalnya:
seekor kucing
sebuah meja
dua pensil
2.      Verba atau kata kerja, ciri utamanya dilihat dari adverbial yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa.
Contoh            : tidak datang, tidak pulang
                          Tidak makan, tidak membaca
Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi.
Contoh            : sering datang, jarang makan, dan kadang-kadang pulang.
Ketiga, tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan pengolongannya.
Contoh            : sebuah *membaca, dua butir *menulis, dan tiga butir *pulang.
Keempat, tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat.
Contoh            : agak *pulang, cukup *datang, lebih *pergi.
Kelima, dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tenses).
Contoh            : sudah makan, sedang mandi, tengah membaca, lagi tidur.
Keenam, dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian.
Contoh            : belum mandi, baru datang, sedang makan, sudah pulang.
Ketujuh, dapat didampingi oleh semua adverbial keharusan.
Contoh            : boleh mandi, harus pulang, wajib datang.
Kedelapan, dapat didampingi oleh semua anggota adverbial kepastian.
Contoh            : pasti datang, tentu datang, mungkin pergi, barangkali tahu.
3.      Ajektifa, atau kata keadaan dari adverbial yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas adjektifa.
Pertama, tidak dapat didampingi oleh adverbial frekuensi sering, jarang, dan kadang-kadang. Jadi, tidak mungkin ada.
Contoh            : *sering indah, *jarang tinggi, dan*kadang-kadang besar.
Kedua, tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah. Jadi, tidak ada.
Contoh            : *banyak indah, *sedikit baru, *sebuah indah.
Ketiga, dapat didampingi oleh semua adverbial derajat.
Contoh            ; agak tinggi, cukup mahal, lebih bagus, sangat indah, jauh sekali.
Keempat, dapat didampingi oleh adverbial kepastian pasti, tentu, mungkin, dan barangkali.
Contoh            : pasti indah, tentu baik, mungkin buruk, barangkali cantik.
Kelima, tidak dapat diberi adverbial kata hendak dan mau. Jadi bentuk-bentuk tidak berterima.
Contoh            : *hendak indah, *mau tinggal.
b)      Kelas tertutup, yaitu kelas kata yang jumlah keanggotanya terbatas dan tidak tampak kemungkinan untuk bertambah dan berkurang.
Adverbial pada umumnya berupa bentuk dasar. Berikut merupakan yang merupakan bentukan secara morfologi, yaitu;
a.       Berprefiks se- seperti sejumlah, seberapa, dan semoga.
b.      Berprefiks se- dengan rduplikasi, seperti sekali-kali, semena-mena
c.       Berkonfiks se-nya seperti sebaiknya, seharusnya, sesungguhnya, dan sebisanya.
d.      Berkonfiks se-nya disertai reduplikasi seperti selambat-lambatnya, secepat-cepatnya, dan sedapat-dapatnya.
b.      Pronomina, kata ganti karena tugasnya karena tugasnya memang menggantikan nomina yang ada.
a.       Kata ganti diri                         : saya dan aku (orang pertama tunggal), kami dan kita (orang pertama jamak)
b.      Kata ganti penunjuk                : kata ini dan itu untuk menggantikan nomina sekaligus penunjuk.
c.       Kata ganti tanya                      : kata yang digunakan untuk bertanya, seperti: apa, siapa, kenapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan mana.
4.      Numberalia (kata bilangan) Kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urut, dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsi ada bilangan genap, ganjil, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
a.       Kata bantu bilangan: kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan di antara kata bilangan dengan nominana.
Contoh: dua orang Korea, seorang lurah, dua buah rumah.
5.      Preposisi (kata depan)
Kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba didalam suatu klausa. Misalnya kata di dan dengan dalam kalimat: nenek duduk di kursi, kakek menulis surat dengan pensil.
6.      Konjungsi (kata sambung)
Kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frasa dengan fasa, antara klausa denan klausa atau kalimat dengan kalimat. Contoh: ibu dan  ayah pergi ke Bogor, Dia tidak datang karena hujan lebat sekali.
7.      Artikula (kata sandang)
Kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa Indonesia adalah si dan sang. Contoh: Mana si gendut, sejak tadi belum muncul, dan sang kancil adalah tokoh cerita binatang.
8.      Interjeksi
Kata-kata yang mengungkapkan  perasaan batin, misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Interjeksi dibagi menjadi dua, yang pertama kata-kata singkat seperti wah, cih, hai, oi, oh, nah, dan hah. Kedua berupa kata biasa, seperti, aduh,celaka, gila, bangsat, astaga, astaghfirulah,dan  Allah.
Contoh: “Wah, mahal sekali!” kata ibu-bu
                                     “Hai, siapa namamu?” Tanya kakak kepada adik itu.
                                    “Alhamdulillah, akhirna kita berhasil!
9.      Partikel
kah, lah, pun, dan per. Partikel ini ada yang sebagai penegas, tetapi ada pula yang bukan.
Contoh: Apakah isi lemari itu?
                                     Ambillah mana yang kamu suka!
                                    Saya tidak tahu, dia pun tidak tahu
DAFTAR RUJUKAN
Chaer, abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA





Tidak ada komentar:

Posting Komentar