Nama :
Hesti Ambarwati
Kelas :
PBSI 2016 A
NIM :
166054
KLASIFIKASI
KATA, PENDAPAT BERBAGAI MACAM AHLI “KLASIFIKASI KATA”, KELAS TERBUKA DAN KELAS
TERTUTUP
A. Klasifikasi
Kata
Secara
Etimologi Kata “kata” dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa
Ngapak kathā. Dalam bahasa Sanskerta,
kathā sebenanya bermakna “konversasi”, “bahasa”, “cerita”atau “dongeng”.
Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantic menjadi
“kata”.Konsep kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguisti adalah
bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang
stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam
kalimat. Batasan atau konsep itu menyiratkan dual hal. Pertama, bahwa setiap
kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah,
serta tidak dalam di selipi atau di selang oleh fonem lain. Jadi, misalnya,
kata sikat, urutan fonemnya adalah /s/, /i/, /k/, /a/, dan /t/ urutan itu tidak
dapat di ubah menjadi /s/, /k/, /a/, /i/, dan /t/. atau di selipi fonem lain,
misalnya, menjadi /s/, /i/, /u/, /k/, /a/, dan /t/ keduanya setiap kata
mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat di
isi atau di gantikan oleh kata lain, atau juga dapat dipisahkan dari kata
lainnya.
Ciri
pertama, kiranya tidak menimbulkan masalah, tetapi ciri kedua menimbulkan
masalah karena ternyata kebebasan berpindah setiap kata tidak sama. Ada yang
dapat berpindah secara bebas, tetapi ada pula yang terikat dengan satuannya
yang lebih besar di dalam kalimat. Kata barangkali
dan mungkin memiliki kebebasan
yang lebih daripada kata tetapi dan
kata kepada.
Adanya
kebebasan dan ketidakbebasan ini menunjukan bahwa kata-kata itu memiliki
karakter, ciri, atau sifat yang berbeda, sehingga dalam linguistik biasa
dilakukan klasifikasi, penggolongan, atau kategorisasi kata-kata.
- Pendapat Para
Ahli “Klasifikasi Kata”
Chaer, 2008: 63 kata
merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan
tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas dalam kalimat.
Berikut merupakan klasifikasi
kata menurut Chaer, 2008:63-104
a) Kelas
Terbuka
1. Nomina
yaitu kata benda, ciri utama dilihat dari adverbia pendampingnya adalah bahwa
kata-kata yang termasuk kelas kata nomina.
Pertama,
tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak.
*tidak Meja
Pensil
Kedua,
tidak dapat didahului oleh adverbia derajat (agak, lebih, sangat, dan paling).
*agak Meja
Pensil
Ketiga,
tidak dapat didahului oleh adverbial keharusan wajib.
*wajib Meja
Pensil
Keempat,
dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah, satu, sebuah, sebatang.
Misalnya:
seekor kucing
sebuah meja
dua pensil
2. Verba
atau kata kerja, ciri utamanya dilihat dari adverbial yang mendampinginya
adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
Pertama,
dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa.
Contoh : tidak datang, tidak pulang
Tidak makan, tidak membaca
Kedua,
dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi.
Contoh : sering datang, jarang makan, dan kadang-kadang pulang.
Ketiga,
tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan pengolongannya.
Contoh : sebuah *membaca, dua butir *menulis, dan tiga butir
*pulang.
Keempat,
tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat.
Contoh : agak *pulang, cukup *datang, lebih *pergi.
Kelima,
dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tenses).
Contoh : sudah makan, sedang mandi, tengah membaca, lagi tidur.
Keenam,
dapat
didampingi oleh semua adverbia keselesaian.
Contoh : belum mandi, baru datang, sedang makan, sudah pulang.
Ketujuh,
dapat didampingi oleh semua adverbial keharusan.
Contoh : boleh mandi, harus pulang, wajib datang.
Kedelapan,
dapat
didampingi oleh semua anggota adverbial kepastian.
Contoh : pasti datang, tentu datang, mungkin pergi, barangkali
tahu.
3. Ajektifa,
atau kata keadaan dari adverbial yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata
yang termasuk kelas adjektifa.
Pertama,
tidak
dapat didampingi oleh adverbial frekuensi sering,
jarang, dan kadang-kadang. Jadi,
tidak mungkin ada.
Contoh : *sering indah, *jarang tinggi, dan*kadang-kadang besar.
Kedua,
tidak
dapat didampingi oleh adverbia jumlah. Jadi, tidak ada.
Contoh : *banyak indah, *sedikit baru, *sebuah indah.
Ketiga,
dapat didampingi oleh semua adverbial derajat.
Contoh ; agak tinggi, cukup mahal, lebih bagus, sangat indah,
jauh sekali.
Keempat,
dapat
didampingi oleh adverbial kepastian pasti,
tentu, mungkin, dan barangkali.
Contoh : pasti indah, tentu baik, mungkin buruk, barangkali
cantik.
Kelima,
tidak
dapat diberi adverbial kata hendak dan mau. Jadi bentuk-bentuk tidak berterima.
Contoh : *hendak indah, *mau tinggal.
b) Kelas
tertutup, yaitu kelas kata yang jumlah keanggotanya terbatas dan tidak tampak
kemungkinan untuk bertambah dan berkurang.
Adverbial
pada umumnya berupa bentuk dasar. Berikut merupakan yang merupakan bentukan
secara morfologi, yaitu;
a.
Berprefiks se- seperti sejumlah, seberapa, dan semoga.
b.
Berprefiks se- dengan rduplikasi, seperti sekali-kali, semena-mena
c.
Berkonfiks se-nya seperti sebaiknya, seharusnya, sesungguhnya, dan
sebisanya.
d.
Berkonfiks se-nya disertai reduplikasi
seperti selambat-lambatnya,
secepat-cepatnya, dan sedapat-dapatnya.
b.
Pronomina, kata ganti karena tugasnya
karena tugasnya memang menggantikan nomina yang ada.
a.
Kata ganti diri : saya dan aku (orang pertama tunggal), kami
dan kita (orang pertama jamak)
b.
Kata ganti penunjuk : kata ini dan itu untuk menggantikan nomina
sekaligus penunjuk.
c.
Kata ganti tanya : kata yang digunakan untuk bertanya, seperti:
apa, siapa, kenapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan mana.
4. Numberalia
(kata bilangan) Kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urut, dan
himpunan. Menurut bentuk dan fungsi ada bilangan genap, ganjil, bilangan bulat,
bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
a.
Kata bantu bilangan: kata-kata yang
digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan di antara kata
bilangan dengan nominana.
Contoh:
dua orang Korea, seorang lurah, dua buah rumah.
5.
Preposisi (kata depan)
Kata-kata
yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba didalam suatu klausa.
Misalnya kata di dan dengan dalam kalimat: nenek duduk di kursi, kakek menulis
surat dengan pensil.
6.
Konjungsi (kata sambung)
Kata-kata
yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata,
antara frasa dengan fasa, antara klausa denan klausa atau kalimat dengan
kalimat. Contoh: ibu dan ayah pergi ke
Bogor, Dia tidak datang karena hujan lebat sekali.
7.
Artikula (kata sandang)
Kata-kata
yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa,
atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa Indonesia adalah si dan sang. Contoh:
Mana si gendut, sejak tadi belum muncul, dan sang kancil adalah tokoh cerita
binatang.
8.
Interjeksi
Kata-kata
yang mengungkapkan perasaan batin,
misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya.
Interjeksi dibagi menjadi dua, yang pertama kata-kata singkat seperti wah, cih,
hai, oi, oh, nah, dan hah. Kedua berupa kata biasa, seperti, aduh,celaka, gila,
bangsat, astaga, astaghfirulah,dan Allah.
Contoh: “Wah, mahal sekali!” kata
ibu-bu
“Hai, siapa namamu?” Tanya kakak kepada adik
itu.
“Alhamdulillah,
akhirna kita berhasil!
9.
Partikel
kah,
lah, pun, dan per. Partikel ini ada yang sebagai penegas, tetapi ada pula yang
bukan.
Contoh: Apakah isi lemari itu?
Ambillah mana yang kamu suka!
Saya
tidak tahu, dia pun tidak tahu
DAFTAR
RUJUKAN
Chaer,
abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia
(Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar