Nama :
Hesti Ambarwati
Kelas :
PBSI 2016 A
NIM :
166054
ARTI MORFEM ULANG
Menurut
Muslich (2010: 89). Morfem ulang Bahasa Indonesia dapat membentuk kata dengan
bentuk dasar yang berupa kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata sifat
(adjektiva). Di samping itu, morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem
imbuhan dalam membentuk suatu kata misalnya :
Ø ke – an : kekuning – kuningan, kebiru – biruan.
Ø se – nya : sebaik – baiknya, sekuat – kuatnya
Ø -an : rumah – rumahan, sepeda – sepedaan, orang – orangan.
a.
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata kerja, maka morfem ulang mempunyai beberapa arti sebagai berikut :
1.
Menyatakan bahwa “tindakan yang
tersebut pada bentuk dasar di lakukan berulang – ulang, contoh :
Ø Memukul – mukul =
“memukul berulang – ulang”
Ø Menggerak – gerakkan =
“menggerakkan berulang – ulang”
Ø Mengiris – iris =
“mengiris berulang – ulang”
2.
Menyatakan bahwa “tindakan yang
tersebut pada bentuk dasar di lakukan oleh dua pihak dan saling
mengenai/berbalasan, contoh :
Ø Bantu – membantu =
“saling membantu”
Ø Tinju – meninju =
“saling meninju”
Ø Kunjung – mengunjungi =
“saling mengunjungi”
3.
Menyatakan “hal-hal yang berhubungan
dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar”, contoh:
Ø Cetak – mencetak =
“hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan mencetak”
Ø Karang – mengarang = “hal
– hal yang berhubungan dengan kegiatan mengarang”
Ø Coret – mencoret =
“hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan mencoret”
4.
Menyatakan bahwa “tindakan tersebut
pada bentuk dasar dilakukan dengan seenaknya/santai atau hanya untuk bersenang
– senang:, contoh:
Ø Membaca – baca =
“membaca seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
Ø Makan – makan =
“makan seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
Ø Berjalan – jalan =
“berjalan seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
5.
Berkombinasi dengan afiks {ber-an}
menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai”,
contoh:
Ø Berkirim – kiriman =
“saling mengirim”
Ø Berolok – olok =
“saling mengolok”
Ø Berpukul – pukulan =
“saling memukul”
6.
“rasa kekhawatiran, rasa
ketaksetujuan, rasa menggerutu”, contoh:
Ø Datang – datang dalam datang
– datang, langsung tidur = “baru saja datang, kok langsung tidur”
Ø Tahu – tahu dalam tahu
– tahu, film sudah bubar = “begitu sadar (tahu), sayangnya film sudah
bubar”
b.
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata benda, maka morfem ulang mempunyai beberapa arti, sebagai berikut:
1.
Menyatakan “banyak”, contoh:
Ø Kemajuan – kemajuan =
“banyak kemajuan”
Ø Gedung – gedung =
“banyak gedung”
Ø Orang – orang =
“banyak anak”
2.
Menyatakan “meskipun”, contoh:
Ø Beras – beras (dimakannya) =
“meskipun beras (dimakannya)”
Ø Sandal – sandal (diangkatnya) =
“meskipun sandal (diangkatnya)”
Ø Darah – darah (diminumnya) =
“meskipun darah (diminumnya)”
Apabila berkombinasi dengan sufiks {–an} menyatakan “sesuatu
yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar”, contoh : orang –
orangan “yang menyerupai orang”, kuda – kudaan “yang menyerupai
kuda”, kereta – keretaan “yang menyerupai kereta”.
c.
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut:
1.
Menyatakan “lebih … lagi”, contoh:
Ø Cepat – cepat lebih cepat lagi Berlarilah cepat – cepat!
Ø Rajin – rajin lebih rajin lagi Belajarlah rajin – rajin !
2.
Berkombinasi dengan {ke-an}
menyatakan “agak”, contoh:
Ø Kehijau – hijauan “agak
hijau”
Ø Keheran – heranan “agak
heran”
3.
“meskipun seperti bentuk dasar”,
contoh:
Ø Jelek – jelek (dia
itu setia) “meskipun
jelek”
Ø Kecil – kecil (tapi
sangat dibutuhkan) “meskipun
jelek”
4.
Berkombinasi dengan afiks {se-nya}
menyatakan “tingkat yang paling tinggi” atau “supelatif”, contoh:
Ø Sekecil – kecilnya “tingkat
yang paling kecil”
Ø Sebaik – baiknya “tingkat
yang paling baik”
DAFTAR RUJUKAN
Muslich, masnur. 2010. Tata
Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar