Rabu, 10 Januari 2018

ARTI MORFEM ULANG

Nama         : Hesti Ambarwati
Kelas          : PBSI 2016 A
NIM           : 166054
ARTI MORFEM ULANG
            Menurut Muslich (2010: 89). Morfem ulang Bahasa Indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berupa kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata sifat (adjektiva). Di samping itu, morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata misalnya :
Ø  ke – an : kekuning – kuningan, kebiru – biruan.
Ø  se – nya : sebaik – baiknya, sekuat – kuatnya
Ø  -an : rumah – rumahan, sepeda – sepedaan, orang – orangan.

a.       Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka morfem ulang mempunyai beberapa arti sebagai berikut :
1.      Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut pada bentuk dasar di lakukan berulang – ulang, contoh :
Ø  Memukul – mukul                     = “memukul berulang – ulang”
Ø  Menggerak – gerakkan              = “menggerakkan berulang – ulang”
Ø  Mengiris – iris                           = “mengiris berulang – ulang”
2.      Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut pada bentuk dasar di lakukan oleh dua pihak dan saling mengenai/berbalasan, contoh :
Ø  Bantu – membantu                    = “saling membantu”
Ø  Tinju – meninju                         = “saling meninju”
Ø  Kunjung – mengunjungi            = “saling mengunjungi”
3.      Menyatakan “hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar”, contoh:
Ø  Cetak – mencetak          = “hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan mencetak”
Ø  Karang – mengarang      = “hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan mengarang”
Ø  Coret – mencoret           = “hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan mencoret”
4.      Menyatakan bahwa “tindakan tersebut pada bentuk dasar dilakukan dengan seenaknya/santai atau hanya untuk bersenang – senang:, contoh:
Ø  Membaca – baca            = “membaca seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
Ø  Makan – makan             = “makan seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
Ø  Berjalan – jalan              = “berjalan seenaknya/santai untuk bersenang – senang”
5.      Berkombinasi dengan afiks {ber-an} menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai”, contoh:
Ø  Berkirim – kiriman        = “saling mengirim”
Ø  Berolok – olok               = “saling mengolok”
Ø  Berpukul – pukulan       = “saling memukul”
6.      “rasa kekhawatiran, rasa ketaksetujuan, rasa menggerutu”, contoh:
Ø  Datang – datang dalam datang – datang, langsung tidur = “baru saja datang, kok langsung tidur”
Ø  Tahu – tahu dalam tahu – tahu, film sudah bubar = “begitu sadar (tahu), sayangnya film sudah bubar”
b.      Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka morfem ulang mempunyai beberapa arti, sebagai berikut:
1.      Menyatakan “banyak”, contoh:
Ø  Kemajuan – kemajuan      = “banyak kemajuan”
Ø  Gedung – gedung             = “banyak gedung”
Ø  Orang – orang                   = “banyak anak”
2.      Menyatakan “meskipun”, contoh:
Ø  Beras – beras (dimakannya)          = “meskipun beras (dimakannya)”
Ø  Sandal – sandal (diangkatnya)      = “meskipun sandal (diangkatnya)”
Ø  Darah – darah (diminumnya)        = “meskipun darah (diminumnya)”
Apabila berkombinasi dengan sufiks {–an} menyatakan “sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar”, contoh : orang – orangan “yang menyerupai orang”, kuda – kudaan “yang menyerupai kuda”, kereta – keretaan “yang menyerupai kereta”.
c.       Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut:
1.      Menyatakan “lebih … lagi”, contoh:
Ø  Cepat – cepat        lebih cepat lagi            Berlarilah cepat – cepat!
Ø  Rajin – rajin          lebih rajin lagi             Belajarlah rajin – rajin !
2.      Berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan “agak”, contoh:
Ø  Kehijau – hijauan              “agak hijau”
Ø  Keheran – heranan            “agak heran”
3.      “meskipun seperti bentuk dasar”, contoh:
Ø  Jelek – jelek          (dia itu setia)                           “meskipun jelek”
Ø  Kecil – kecil          (tapi sangat dibutuhkan)         “meskipun jelek”
4.      Berkombinasi dengan afiks {se-nya} menyatakan “tingkat yang paling tinggi” atau “supelatif”, contoh:
Ø  Sekecil – kecilnya             “tingkat yang paling kecil”
Ø  Sebaik – baiknya               “tingkat yang paling baik”
DAFTAR RUJUKAN
Muslich, masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar