Nama : Hesti Ambarwati
Kelas : PBSI 2016 A
NIM : 166054
KOMPOSISI
Pengantar
Komposisi adalah proses
penggabungan dasar dengan dasar (biasa berupa akar maupun bentuk berimbuhan)
untuk mewadahi suatu “konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata. Seperti kita ketahui
bahwa konsep-konsep dalam kehidupan kita banyak sekali, sedangkan jumlah
kosakata terbatas. Oleh karena itu, proses komposisi ini dalam bahasa Indonesia
merupakan satu mekanisme yang cukup penting dalam pembentukkan dan pengayaan
kosakata.
Komposisi
dalam peristilahan
Beberapa istilah yang selama ini
digunakan dalam berbagai literatur tata bahasa Indonesia. Istilah pertama yang
banyak digunakan adalah kata majemuk (lihat Alisjahbana, 1953). Istilah ini
digunakan untuk mengacuh kepada konsep “gabungan dua buah kata atau lebih” yang memiliki makna baru. Misalnya, bentuk kumis kuncing dalam
arti ‘sejenis tanaman yang ...’ adalah sebuah kata majemuk; tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’ bukanlah kata
majemuk.
Dari uraian diatas dapat ditarik
dua kesimpulan. Pertama, konsep kata majemuk seperti yang dimaui Alisyahbana
adalah identik dengan konsep idiom dalam kajian simantik. Kedua, dibuatnya
dikolomi kata majemuk dan bukan kata majemuk.
Untuk pembicaraan komposisi,
Fokker (1951) menggunakan istilah kelompok kata, yang dibedakannya atas
kelompol longgar dan kelompok erat. Dengan kelompok longgar dimaksudkan untuk
kelompok kata yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat tidak mengikat.
Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok erat adalah kelompok yang hubungan antara
unsur-unsurnya bersifat erat dan tidak erat dan tidak dapat dipisahkan. Kalau
dibandingkan dengan peristilahan yang digunakan Alisyahbana, maka kelompok
longgar sama dengan yang bukan kata majemuk dan kelompok erat sama dengan kata
majemuk.
Dalam pembicaraan komposisi C.A.
Mees (1957) menggunakan istilah kata majemuk dan aneksi. Dengan kata istilah
kata majemuk dimaksudkan untuk gabungan kata yang memiliki makna idiomatik,
persis sama dengan yang digunakan Alisyahbana. Sedangkan istilah aneksi dimaksudkan
untuk menyebut gabungan kata yang maknanya masih dapat ditelusuri secara
gramatikal, seperti lukisan Yusuf memiliki makna ‘lukisan milik Yusuf’ atau ‘lukisan buatan Yusuf’. Jadi, C.A.
Mees menggunakan istilah kata majemuk untuk komposisi yang bermakna idiomatik,
dan aneksi untuk komposisi yang bukan bermakna idiomatikal.
Sementara itu dalam buku Pedoman
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan bentuk-bentuk seperti duta besar,
disebutnya “gabungan kata yang lazim disebut kata
majemuk”. Pernyataan ini tentu menimbulkan
banyak masalah, sebab bentuk seperti duta besar dimaksudkan dalam satu konsep
dan istilah.
Mengenai komposisi, Kridalaksana
(1989) menyamakan istilah komposisi sama dengan perpaduan atau pemajemukan,
yaitu proses penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. Hasil
proses itu disebut paduan leksem atau komposetum, yang menjadi calon kata
majemuk. Kridalaksana (1989) juga menjelaskan kalau kata majemuk yang berasal
dari paduan leksem atau komposetum adalah hasil proses morfologi, maka yang
disebut frase adalah hasil proses sintaksis. Frase dibentuk dari pemaduan kata
dengan kata, bukan leksem dengan leksem. Jadi, dengan kata lain kalau komposisi
adalah masa morfologi, maka frase adalah masalah sintaksis. Oleh karena itu,
ada kemungkinan adanya sebuah data kebahasaan bila dilihat dari segi morfologi
sebagai sebuah komposisi, tetapi kalau dilihat dari segi sintaksis sebagai
sebuah frase.
Aspek
simantik komposisi
Tujuan utama membentuk komposisi
adalah untuk menampung atau mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan
kita tetapi belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. Dilihat dari usaha
untuk menampung konsep-konsep ini dapat dibedakan adanya lima macam komposisi.
1) Komposisi yang menampung
konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga membentuk komposisi yang
koordinatif. Misalnya, penggabungan dasar makan dan dasar minum menjadi
komposisi makan minum. Makna gramatikal hasil penggabungan koordinatif bisa ‘dan’ bisa juga ‘atau’ tergantung pada konteks kalimatnya;
bisa juga bermakna idiomatik.
Contoh lain: baca tulis ‘baca dan tulis’
2) Komposisi yang menampung
konsep-konsep yang digabung tidak sederajat, sehingga melahirkan komposisi yang
subordinatif. Dalam komposisi ini unsur pertama merupakan unsur utama dan unsur
kedua merupakan unsur penjelas. Misalnya dasar sate sebagai unsur utama
digabung dengan dasar ayam sebagai unsur penjelas menjadi komposisi sate ayam
yang bermakna gramatikal ‘sate yang
berbahan daging ayam’.
Makna gramatikal komposisi
subirdinatif ini memang tergantung pada komponen makna yang dimiliki unsur
kedua. Seperti pada contoh diatas pada sate ayam, dasar ayam memiliki komponen
makna (+ bahan); pada contoh kedua dasar madura memiliki komponen makna (+tempat);
dan pada contoh ketiga dasar lontong memiliki komponen makna (+campuran).
Bagaimana dengan makna gramatikal sate pak kumis? Unsur pak kumis memiliki
komponen makna (+pembuat). Jadi, komposisi sate pak kumis memiliki makna
gramatikal ‘sate buatan pak kumis’.
3) Komposisi yang menghasilkan
istilah, yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tertentu, meskipun bebas dari
konteks kalimatnya, karena sebagai istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu
atau kegiatan tertentu. Makna istilah dalam komposisi ini tidak ditentukan oleh
hubungan kedua unsurnya, melainkan ditentukan oleh keseluruhannya.
Beberapa contoh istilah dalam
bentuk komposisi:
1. Istilah Olahraga:
- Tolak peluru
- Angkat besi
-Terjun payung
-Terbang melayang
-Balap sepeda
2. Istilah Linguistik:
-Fonem vokal
-Morfem bebas
-Frase endosentrik
- Klausa verbal
-Kalimat inti
3. Istilah Politik:
-Suaka politik
-Hak angket
-Hak pillih
-Hak prerogatif
- Sidang paripurna
4. Istilah Pendidikan:
- Buku ajar
- Tahun ajaran
- Guru bantu
-Model pembelajaran
- Data kependidikan
5. Istilah Agama (Islam):
-Hadis shahih
- Ayat kursi
-Wali hakim
-Zakat fitrah
-Ibadah haji
4) Komposisi pembentuk idiom,
yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik, yaitu
makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal dan maupun gramatik.
Misalnya, penggabungan meja dengan dasar hijau yang menghasilkan komposisi meja
hijau dengan makna ‘pengadilan’. Berikut adalah contoh komposisi idiomatik lainnya:
-Memeras keringat‘bekerja keras’
- Membanting tulang‘bekerja keras’
- Menjual gigi‘tertawa keras-keras’
- Berat tapseng‘sudah tua’
- Bau kecur‘(masih) kanak-kanak’
Sebetulnya, ada dua macam bentuk komposisi
idiomatik, yaitu, pertama, yang berupa idiom penuh dimana semua unsurnya
merupakan satu kesatuan, seperti contoh diatas. Yang kedua adalah idiom
sebagian, yaitu idiom yang salah satu unsurnya masih bermakna leksikal
misalnya.
- Daftar hitam, ‘daftar yang berisi nama-nama orang yang diduga berbuat salah’
- Baju kebesaran,‘baju berkenaan dengan kepangkatan’
- Gaji buta, ‘gaji yang diterima meskipun sudah tidak bekerja’.
5)Komposisi yang menghasilkan
nama, yakni yang mengacu pada sebuah wujud dalam dunia nyata. Misalnya, Griya
Matraman, Stasiun Gambir dan Selat Sunda.
11.1.3
Pengembangan komposisi
Bahwa maksud utama pembentukkan
komposisi adalah untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata
tetapi belum ada kosakatanya dalam bentuk tunggal. Pada tahap pertama tentunya
komposisi baru berupa penggabungan dua buah dasar, seperti dasar kereta dengan
dasar api menjadi komposisi kereta api. Namun, kemudian akibat perkembangan
teknologi dan budaya kereta api dapat digabungkan lagi dengan dasar ekspres
sehingga menjadi kereta api ekspres. Selanjutnya, komposisi kereta api ekspres
dapat digabung lagi dengan dasar malam menjadi komposisi kereta api ekspres
malam. Malah kemudian komposisi kereta
api ekspres malam ini dapat digabung lagi dengan komposisi luar biasa sehingga
menjadi kereta api ekspres malam luar biasa.
Komposisi
Nomina
Komposisi nomina adalah komposisi yang pada
satuan klausa berkategori nomina. Misalnya,komposisi kakek nenek dan baju baru
pada kedua kalimat berikut:
-Kakek nenek pergi berlebaran.
-Mereka memakai baju baru.
Pengisi fungsi subjek komposisi kakek nenek
berkatagori nomina dan pengisi fungsi objek komposisi baju baru juga
berkategori nomina. Komposisi nominal dapat dibentuk dari dasar: nomina+ nomina, kakek nenek+meja kayu. (Abdul
Chaer,2008:216)
Komposisi
Nominal Bermakna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul
dalam proses penggabungan dasar dengan dasar
dalam pembentukan sebuah komposisi. Makna gramatikal pembentukan
komposisi nominal antara lain: (Abdul Chaer,2008:217)
1.’gabungan biasa’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata dan. Apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna:
a.(+pasangan antonym relasional).
Misalnya,ayah ibu , guru murit.
b.(+anggota dari satu medan
makna). Misalnya,topan badai, sawah lading.
2.’bagian’,kedua unsurnya dapat disisipkan kata
dari. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ bagian dari unsur kedua)
dan unsur kedua memiliki komponen makna (+keseluruhan yang mencakup unsur
pertama). Misalnya,awal tahun,akhir bulan.
3.’kepunyaan atau pemiliki’kedua unsurnya
dapat disisipkan kata milik. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda
termiliki) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+insan),(+yang diinsankan)
atau (+pemilik). Misalnya,sepatu adik.
4.’asal bahan’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata tersebut dari. Apabila unsur pertamanya memiliki komponen
makna (+bahan pembuat unsur pertama). Misalnya,cincin emas,sate ayam.
5.’asal tempat’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata berasal dari.apabila unsur kedua memiliki makna (+tempat
berasalnya unsur pertama). Misalnya,sate padang,jeruk bali.
6.’bercampur atau dicampur dengan’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata bercampur. Apabila unsur
kedua memiliki komponen makna (+pencampur pada unsur pertama). Misalnya,teh
susu, roti keju.
7.’hasil buatan’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata buatan. Apabila unsur kedua memiliki komponen makna
(+pembuat unsur pertama). Misalnyal,puisi Chairil.
8.’tempat melakukan sesuatu’kedua unsurnya
dapat disisipkan kata tempat. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+ruang) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan). Misalnya, kamar
periksa,rumah makan.
9.’kegunaan tertentu’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata untuk. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+kegunaan) dan komponen kedua memiliki komponen makna (+tindakan). Misalnya
uang belanja, mobil dinas.
10.’bentuk’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
berbentuk. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+bentuk) atau (+wujud). Misalnya, meja bundar,
rumah mungil.
11.’jenis’kedua unsurnya dapat disisipkan kata
jenis. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ benda
generik),sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+benda spesifik).
Misalnya,mobil sedan, pisau lipat.
12.’keadaan’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
dalam keadaan. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna(+benda) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+keadaan). Misalnya, mobil rusak,daerah kumuh.
13.’seperti atau menyerupai’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata seperti atau serupa. Apabila unsur pertama memiliki
komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+ciri
khas benda). Misalnya, gula pasir,akar rambut.
14.’jender atau jenis klamin’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata berkelamin. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+makhluk) dan komponen kedua memiliki komponen makna (+gender). Misalnya,ayam
jantan, sapi betina.
15.’model’kedua unsurnya dapat disisipkan kata
model. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ benda buatan) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+cirri khas dari sesuatu). Misalnya, celana
jengki, topi koboi.
16.’memakai atau menggunakan’kedua unsurnya
dapat disisipkan kata memakai. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+benda alat) dan unsur kedua memakai komponen makna (+bahan yang digunakan).
Misalnya, kapal layar,mesin uap.
17.’yang di…’kedua unsurnya dapat disisipkan kata
yang di…makna gramatikal ‘yang di…’apabila unsur kedua memiliki komponen
makna (+perlakuan terhadap unsur pertama). Misalnya, anak angkat,ayam goring.
18.’ada di…’kedua unsurnya dapat disispkan kata di.apbila
unsur pertama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua memiliki
komponen makna (+ruang) atau (+tempat). Misalnya,bajak laut, kapal udara.
19.’yang (biasa) melakukan’kedua unsurnya
dapat disisipkan kata yang melakukan atau yang mengerjakan. Apabila unsur
pertama memiliki komponen makna (+pelaku) dan unsur kedua memiliki komponen
makna (+ tindakan) atau (+ kegiatan). Misalnya, jago balap,jago makan.
20.’wadah atau tempat’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata wadah atau tempat. Apabila unsur pertama memiliki
komponen makna (+wadah) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+benda
berwadah). Misalnya,kaleng cat,botol kecap.
21.’letak atau posisi’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata yang berada di..,apabila unsur pertama memiliki komponen
makna (+posisi). Misalnya,pintu depan,ruang dalam.
22.’mempunyai atau dilengkapi dengan’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata mempunyai atau dilengkapi
dengan. Apabila unsur pertamanya memilki komponen makna (+ benda alat) dan
komponen kedua memiliki komponen makna (+pelengkap). Misalnya, kursi roda.
23.’jenjang,tahap atau tingkat’kedua unsurnya dapat disisipkan kata tahap atau tingkat. Apabila
unsur pertamanya memiliki komponen mekna (+kegiatan) dan unsur kedua memiliki
komponen makna (+tahap) atau (+tingkatan). Misalnya,sekolah dasar, pemain
pemula.
24.’rasa atau bau’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata yang rasanya atau yang baunya. Apabila unsur pertamanya
memiliki komponen makna (+benda rasa) atau (+benda bau). Misalnya,kacang asin,
gulai pedas. (Abdul Chaer,2008:217)
Komposisi
Nominal Bermakna Idiomatikal
Komposisi nominal memiliki makna
idiomatik,baik berupa idiom penuh maupun berupa idiom sebagian. Idiom penuh
artinya seluruh komposisi itu memiliki makna yang tidak dapat diprediksi secara
leksikal maupun secara gramatikal. Misalnya, orang tua,dalam arti ayah ibu.
Apabila idiomatic dalam konteks kalimatnya.
Misalnya,semua orang tua murid sudah hadir di aula. Sedangkan komposisi orang
tua dalam kalimat. Misalnya,”siapa nama orang
tua yang duduk di sana itu?”
Komposisi yang berupa idiom sebagian adalah
yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya,seperti komposisi
daerah hitam. Kata daerah pada komposisi daerah hitam masih memiliki makna
leksikalnya. Sedangkan makna idiomatik adalah kata hitam. (Abdul
Chaer,2008:222)
Komposisi
Nominal Metaforis
Komposisi nominal yang salah satu unsurnya
digunakan secara metaforis, yakni dengan mengambil salah satu komponen makna
yang dimiliki oleh unsur tersebut. Misalnya,unsur kaki pada komposisi kaki
gunung diberi makna metaforis dari komponen makna kaki (+terletak pada bagian
bawah). (Abdul Chaer,2008:223)
Komposisi
Nominal Nama dan Istilah
Sebagian nama atau istilah komposisi ini
tidak bermakna gramatikal,tidak bermakna idiomatik,juga tidak bermakna
metaforis. Misalnya, nama“Apotik Rini” istilah“suku cadang”. (Abdul Chaer,2008:224)
Komposisi
Nominal dengan Adverbia
Makna komposisi nominal dengan adverbial
ditentukan oleh makna “leksikal”. Adverbial yang menyatakan negasi yaitu bukan,tiada dan tanpa dan
adverbial menyatakan jumlah yaitu berapa,
banyak,sedikit,sejumlah,jarang,kurang. Misalnya, -bukan anjing,- tiada air.
(Abdul Chaer,2008:224)
Komposisi
Verbal
Komposisi verba adalah komposisi yang pada
satuan klausa berkategori verbal. Misalnya komposisi menyanyi menari dapat
berupa kalimat: -mereka menyanyi menari sepanjang malam. (Abdul Chaer,2008:225)
Komposisi dapat dibentuk dari
dasar:
a. Verba +verba,seperti menyanyi
menari, datang menghadap, duduk termenung.
b. Verba + nomina,seperti gigit
jari,membanting tulang,makan tangan.
c. Verba +ajektifa,seperti lompat
tinggi,lari cepat,berkata keras.
d. Adverbial + verba,seperti
sudah makan,tidak datang, belum jumpa.
Komposisi
Verbal Bermakna Gramatikal
Proses pembentukan komposisi verbal muncul
beberapa makna gramatikal,antara lain adalah makna yang menyatakan: (Abdul
Chaer,2008:226)
1.’gabungan biasa’kedua unsurnya
dapat disipkan kata dan.
a.kedua unsurnya memiliki komponen
makna yang sama,sebagai dua buah kata bersinonim. Misalnya,bimbang ragu,bujuk
rayu,caci maki.
b.kedua unsurnya merupakan
anggota dari satu medan makna. Misalnya, belajar mengajar.
c.kedua unsurnya merupakan
pasangan berantonim. Misalnya,jual beli,jatuh bangun.
2.’gabungan mempertentangkan’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata atau. Apabila kedua unsurnya merupakan pasangan
berantonim. Misalnya,hidup mati,gerak diam,pulang pergi.
3.’sambil’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
sambil. Apabila kedua unsur itu merupakan dua tindakan yang dapat dilakukan
bersamaan,hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna (+tindakan) dan
(+gerak),sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+ tindakan) dan
(+gerak). Misalnya, datang membawa,datang menangis.
4.’lalu’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
lalu. Apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+
gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ gerak).
Misalnya,datang berteriak-teriak, datang marah-marah.
5.’untuk’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
untuk. Apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+
gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran).
Misalnya, datang meangih(hutang), pergi membayar (pajak).
6.’dengan’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
dengan. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna(+ tindakan) dan (+ gerak)
dan unsur kedua memiliki komponen makna (+ tinadakan) dan (+ keadaan).
Misalnya, datang merangkak,ngesot,datang.
7.’secara’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
secara. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ cara). Misalnya, terjun bebas, makan
besar-besaran,lari cepat.
8.’alat’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
alat. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ tindakan) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ alat) atau (+ yang digunakan). Misalnya, balap
mobil, balap sepeda, lempar lembing.
9.’waktu’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
waktu. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ kegiatan) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ saat) atau (+ ketika). Misalnya, ronda malam,
jaga malam, apel pagi.
10.’karena’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
karena. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ kejadian) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ penyebab). Misalnya, cerai mati, mabuk laut,
mabuk udara.
11.’terhadap’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata terhadap atau akan. Apabila unsur pertamanya memiliki
komponen makna (+ peristiwa) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+
bahaya). Misalnya, kedap air, kedap suara, tahan panas.
12.’menjadi’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
menjadi. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ penyebab) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ akibat). Misalnya, jatuh cinta, jatuh sakit,
jatuh miskin.
13’sehingga’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata sehingga atau sampai. Apabila unsur pertamanya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+
kesudahan). Misalnya, tembak mati, tembak jatuh, beri tahu.
14.’menuju’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata ke
atau menuju. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ gerak arah) dan
unsur kedua memiliki komponen makna (+ arah tujuan). Misalnya, belok kiri, naik
darat, pulang kampung.
15.’arah kedatangan’ kedua unsurnya
dapat disisipkan kata dari. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+
gerak arah) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+ tempat kegiatan).
Misalnya, pulang kantor, pulang kerja, usai sekolah.
16.’seperti’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata
seperti atau sebagai. Apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+
keadaan) dan unsu kedua memiliki komponen makna (+ perbandingan). Misalnya,
lurus tabung, mati kutu, buta ayam. (Abdul Chaer,2008:226)
Komposisi
Verbal Bermakna idiomatikal
Komposisi verbal yang bermakna idiomatikal,
yaitu makna yang tidak dapat ditelusuri atau diprediksi baik secara leksikal
maupun gramatikal. Misalnya, makan garam dalam arti ‘pengalaman’, makan kerawat
dalam arti ‘sangat miskin’.
Komposisi verba bermakna idiomatikal ini
berstruktur verba + nomina atau berupa
klausa predikat + objek atau objek + pelengkap. Namun maknanya bukan makna
gramatikal atau makna sintaktikal melainkan makna idiomatikal tersebut.
Berkenaan dengan konstruksi predikat +
objek ini, maka makna verba yang menjadi predikat itu sangat bergantung pada
nomina, sebagai objek yang mengikutinya. Contoh, (a) bermakna gramatikal,
contoh, makan tempe, makan tahu. (b) bermakna idiomatikal. Contoh, makan tangan,
makan hati. (c) bermakna polisemi. Contoh, makan ongkos, makan waktu. (Abdul
Chaer,2008:229)
Komposisi
Verbal dengan Adverbia
Verba sebagai pengisi fungsi predikat dalam
sebuah klausa sering kali didampingi oleh sebuah adverbial atau lebih.
Adverbial pendamping verba adalah : (Abdul Chaer,2008:231)
a. adverbia negasi : tidak, tak,
tanpa.
b. adverbia kala : sudah, sedang,
akan.
c. adverbia keselesaian : sudah,
sedang, tengah
d. adverbia aspectual : boleh,
wajib, harus
e. adverbia frekuensi : sering,
jarang, pernah
f. adverbia kemunkinan : mungkin,
pasti, barang kali
verba di dampingi oleh dua adverbia atau
lebih berikut adalah contoh komposisi dengan kelas adverbia :
- tidak makan
- harus datang
- tidak akan makan
Komposisi
Ajektifa
Komposisi adjektifa adalah komposisi yang
pada satuan klausa, berkategori ajektifa. Misalnya, komposisi cantik molek dan
kaya miskin dalam klausa berikut : (Abdul Chaer,2008:231)
- Gadis yang cantik moleh itu
duduk termenung.
- Kaya miskin dihadapan Allah
sama saja.
Komposisi ajektifal dapat dibentuk dari
dasar :
a. Ajektifa + ajektifa, seperti
tua muda, besar kecil, dan putih baru.
b. Ajektifa + nomina, seperti
merah darah, keras hati, dan biru laut.
c. Ajektifa + verba, seperti
takut pulang, malu bertanya, dan berani pulang.
d. Adverbia + ajektifa, seperti
tidak berani, sangat indah, dan agak nakal.
Komposisi
Ajektival Bermakna Gramatikal
Proses pembentukannya muncul sejumlah makna
gramatikal, antara lain, adalah makna yang menyatakan : (Abdul Chaer,2008:232)
(1)‘gabungan biasa’, kedua unsurnya
dapat disisipkan kata dan. Apabila kedua unsurnya :
a. Memiliki komponen makna yang sama sebagai pasangan
bersinonim. Misalnya, cantik molek, gagah berani, segar bugar.
b. Memiliki komponen makna yang berkebalikan
sebagai pasangan berantonim atau beroposisi. Misalnya, tua muda, besar kecil,
baik buruk.
c. Memiliki komponen makna yang sejalan atau
tidak bertentangan. Misalnya, bulat panjang, gemuk pendek, tinggi kurus.
(2)‘alternatif atau pilihan’ , kedua
unsurnya dapat disisipkan kata atau. Apabila kedua unsurnya memiliki komponen
maka yang bertentangan sebagai pasangan berantonim. Misalnya, buruk baik,
panjang pendek kalah menang.
Kedua, komposisi dari dua buah
unsur yang komponen maknanya berkebalikan, tetapi bukn merupakan antonim,
disisipi kata tetapi di antara unsurnya. Misalnya, nakal tetapi pandai, bodoh
tetapi rajin.
(3)‘seperti’, kedua unsurnya dapat disisipkan kata
seperti. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ warna) sedangkan
unsur kedua memiliki komponen makna (+ benda berwarna). Misalnya, merah jambu,
merah darah, hijau daun.
(4)‘serba’, apabila kedua unsurnya berupa dasar
yang sama dan memiliki komponen makna yang sama. untuk membedakan maknanya,
perlu contoh dalam bentuk kalimat. Berikut kalimat (a) adalah komposisi dan
kalimat (b) adalah reduplikasi.
a. Mereka memakai pakaian
putih-putih.
Warna seragam mereka biru-biru
Senjatanya hanya pentungan
bulat-bulat.
b. Putih-putih harus dibawanya
kumpulkan yang biru –biru,yang lainnya buang saja.
Bulat-bulat ditelannya anak ikan
itu.
(5)‘untuk’, kedua unsurnya dapat disisipkan kata
untuk. Apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ sikap batin) dan unsur
kedua memiliki komponen makna (+ kejadian) atau (+ peristiwa). Misalnya, takut
mati, takut pulang, berani mati.
(6)‘kalau’, kedua unsurnya dapat disisipkan kata
kalau. Apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+ perasaan batin) dan
unsur kedua memiliki komponen makna (+ tindakan). Misalnya, sedih mendengar,
senang meihat. (Abdul Chaer,2008:232)
Komposisi
Ajektival Bermakna Idiomatikal
Komposisi ajektival bermakna idiomatikal,
yakni makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal.
Misalnya, panjang usus dalam arti ‘sabar’, tinggi hati dalam arti ‘angkuh’. (Abdul Chaer,2008:234)
Komposisi
Ajektival Bermakna Adverbial
Ada dua macam adverbial yang mendampingi
ajektiva untuk emmbentuk komposisi ajektival, yaitu : (Abdul Chaer,2008:234)
- Adverbia negasi : tidak.
- Adverbia derajat : agak, sama,
lebih, kurang, sangat, amat, sekali.
Contoh-contoh pemakaian :
·
tidak bagus, tidak baik, tidak mudah, tidak lurus, dan
tidak cantik.
·
Agak tinggi, agak lurus, sama baik, sama tinggi, lebih
jauh, lebih muda, kurang indah, kurang rapat, sangat panjang, sangat lurus,
amat baik, amat nakal, merah sekali, dan tua sekali. (Abdul Chaer,2008:234)
Daftar
Pustaka
Chaer, abdul. 2008. Morfologi
Bahasa Indonesia. Jakarta. PT Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar