Selasa, 09 Januari 2018

AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA

Nama         : Hesti Ambarwati
Kelas          : PBSI 2016 A
NIM           : 166054
AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA
Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, nomina, maupun ajektiva. Dalam bab ini akan dibicarakan pembentukan verba turunan itu, dalam dalam berikutnya akan dibicarakan pembentukan nomina dan ajektiva.
Afiksasi pembentukan verba :
1. prefiks ber-
2. konfiks dan klofiks ber-an
3. klofiks ber-kan
4. sufiks– kan
5. sufiks-i
6. prefiks per-
7. kofiks per-kan
8. konfiks per-i
9. prefiks me-
10. prefiks di-
11. prefiks ter-
12. prefiks ke-
13. prefiks ke-an
  1. Verba Berprefiks ber-
Bentuk dasar pembentukan verba prefiks ber- dapat berupa:
Bentuk dasar pembentukan verba prefiks ber-, contoh :
  1. Morfem dasar terikat, seperti : bertempur, berkelahi, berjuang.
  2. Morfem dasar bebas, seperti : berladang, bertenak, bergaya.
  3. Bentuk turunan berafiks, seperti : berpakaian, beraturan, berpendapatan. Jadi, disini prefiks ber- diimbuhkan pada dasar yang terlebih dahulu sudah diberi afiks lain.
  4. Bentuk turunan reduplikasi, seperti : berlari-lari, berkeluh-kesah.
  5. Bentuk turunan hasil komposisi, seperti : berjual-beli, bertemu-muka.
1.1    Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mempunyai (dasar)’ atau ‘ada (dasar)nya’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+benda), (+umum) dan (+bagian). Contoh :
  • Berayah ‘mempunyai ayah’
  • Bermesin ‘ada mesinnya’
  • Berjendela ‘ada jedelanya’

1.2    Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘memakai’ atau ‘mengenakan’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+pakain) atau (+perhiasan). Contoh :
  • Berjilbab ‘memakai jilbab’
  • Berkalung ‘memakai kalung’
  • Berpita ‘memakai pita’
1.3 Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengendarai’, ‘menumpang’,
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kendaraan). Contoh :
  • Bersepeda ‘mengendarai sepeda’
  • Berkuda ‘naik kuda’
  • Bermobil ‘naik mobil’
Catatan!!
Bentuk sperti berbemo, berbus, berangkot. Bertaksi dan berpesawat secara actual memang belum lazim digunakan orang. Tetapi secara gramatikal bentuk-bentuk tersebut berterima.
1.4  Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘berisi’ atau ‘mengandung’
Apabila bentuk dasarnya memiliki kompone (+benda), (+dalaman), atau (+kandungan). Contoh :
  • Beracun ‘mengandung racun’
  • Berkuman ‘mengandung kuman’
  • Berdarah ‘mengandung darah’
Catatan!!
Makna ‘mengandung’ atau ‘berisi’ bisa juga bermakna ‘mempunyai’ atau ‘ada dasarnya’ . Jadi berair bisa bermakna ‘mengeluarkan’ Lihat bab 1.5

1.5  Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengeluarkan’, ‘menghasilkan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen (+benda), (+hasil) atau (+keluar). Contoh “
  • Bertelur ‘mengeluarkan telur’
  • Berair mata ‘mengeluarkan air mata’
  • Bernanah ;mengeluarkan nanah’
1.6    Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengusahakan’ atau  ‘mengupayakan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bidang usaha). Contoh:
·         Berladang ‘mengusahakan lading’
·         Bersawah ‘mengerjakan sawah’
·         Berternak ‘mengusahakan ternak’
1.7    Verba berprefik ber- memiliki makna gramatikal ‘melakukan kegiatan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda) dan (+kegiatan). Contoh “
·         Berdebat ‘melakukan debat’
·         Bersenam ‘melakukan senam’
·         Berolahraga ‘melakukan olahraga’
1.8    Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengalami’ atau ‘berada dalam keadaan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+perasaan batin). Contoh :
·         Bergembira ‘dalam keadaan gembira’
·         Bersedih ‘dalam keadaan sedih’
·         Bersenang-senang ‘dalam keadaan senang’
1.9    Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘menyebut’ atau ‘menyapa’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kerabat) dan (+sapaan). Contoh :
·         Berkakak ‘menyebut kakak’
·         Beradik ‘menyebut adik’

Catatan!!
Bentuk berabang dan yang lain lain diatas dapat juga bermakna gramatikal ‘mempunyai’. Maka dalam hal ini konteks kalimat sangat menentukan makna gramatikal itu.
1.10          Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘kumpulan’ atau ‘kelompok’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah) atau (+hitungan). Contoh :
·         Berdua ‘kumpulan dari dua orang’
·         Bertiga ‘kumpulan dari tiga orang
1.11 Verba berprfiks ber- memiliki makna gramatikal ‘memberi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda) dan (+berian). Contoh :
·         Bersedekah ‘memberi sedekah’
·         Berceramah’memberi ceramah’
·         Berkhotbah ‘memberi khotbah’
Catatan!!
Ada sejumlah kata berprefiks ber- yang tidak bermakna gramatikal, melainkan idiomatical. Misal :
·         Berpulang ‘dengan makna meninggal’
·         Bersalin ‘dengan makna melahirkan’
·         Bertekuk lutut ‘bermakna menyerah’
  1. Verba berkonfiks dan berklofiks ber-an
2.1      Verba berkonfiks ber-an memiliki makna gramatikal ‘banyak serta tidak teratur’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran) dan (+gerak). Contoh :
·         Berlarian ‘banyak yang lari dan tidak teratur’
·         Berlompatan ‘banyak yang lompat dan tidak teratur’
2.2    Verba berkonfiks ber-an memiliki makna gramatikal ‘saling’ atau ‘berbalasan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran), (+gerak). Contoh :
·         Bermusuhan ‘saling memusuhi;
·         Bertangisan ‘saling menangis’
2.3    Verba berprefiks ber-an memiliki makna gramatikal ‘saling berada di’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+letak) dan (+tempat). Contoh :
·         Bersebelahan ‘saling berada disebelah’
  1. Verba berklofiks ber-kan
Verba berklofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula pada betuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks –kan. Misalnya, mula-mula pada dasar senjata diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata, lalu bersenjata diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan. Contoh :
Senjata                        : bentuk dasar
Ber + senjata               : prefik ber-
Ber + senjata + kan     : sufiks –kan
  1. Verba bersufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memilik komponen makna (+tindakan)  dan (+sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem) yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif.
Verba bersufiks-kan digunakan dalam :
(1) kalimat imperative. Contoh :
·         Lemparkan bola itu kesini!
·         Tuliskan namamu disini!
·         Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar!
·         Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (Aspek)
+ pelaku +verba, dan subjeknya menjadi sasaran tindakan. Contoh :
·         Rumah itu baru kami dirikan.
·         Jembatan itu akan merobohkan mereka.
·         Tugas itu belum saya laksankan.
·         Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola : yang + (aspek) +pelaku +verba. Contoh :
·         Unag yang baru kami terima sudah habis lagi.
·         Kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.
4.1    Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+sifat khas). Contoh “
·         Tenangan ‘jadikan tenang’
·         Damaikan ‘jadikan damai’
4.2    Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan berada di’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tempat) atau (+arah). Contoh :
·         Pinggirkan ‘jadikan berada di pinggir’
·         Daratkan ‘jadikan berada di tengah’
4.3    Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan untuk orang lain’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran). Contoh :
·         Bukakan ‘lakukan buka untuk orang lain’
·         Belikan ‘lakukan beli untuk orang lain’
4.4    Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan akan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran). Contoh :
·         Lemparkan ‘lakukan lempar akan’
·         Hapuskan ‘lakukan hapus akan’
4.5    Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal ‘bawa masuk ke’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ruang). Contoh :
·         Asramakan ‘bawa masuk ke asrama’
·         Gudangkan ‘bawa masuk ke gudang’
  1. Verba bersufiks –i
Apabila bersufiks-i adalah verba transitif, yang juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks-i digunakan dalam:
(1) kalimat imperative. Contoh :
·         Tolong gulai the ini!
·         Mari kita hampiri anak itu!
·         Lompati saja pagar itu!
(2)   Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku
+ verba, dan subjeknya menjadi sasaran perbuatan. Contoh :
·         Kemarin beliau sudah kami hubungi.
·         Anak-anak yatim itu harus kami santuni.
·         Gurumu itu mesti kamu hormati dengan baik.
(3)   keterangan tambahan pada subjek atau objek  yang berpola : yang
+ ( aspek) + pelaku + verba. Contoh :
·         desa yang akan kita kunjungi berada dibalik bukit itu.
·         Orang yang harus kamu surati sudah ada disini.
·         Banjir melanda wilayah yang akan kita datangi.
5.1    Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘berulang kali’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran). Contoh :
·         Pukuli ‘pukul berulang kali’
·         Lempari ‘lempar berulang kali’
5.2    Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘tempat’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+tempat). Misal :
·         Duduki, artinya ‘duduk di….’
·         Lewati, ‘lewat di…’
5.3    Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘merasa sesuatu pada’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+sikap batin) atau (+emosi). Misal :
·         Kasihi, ‘merasa kasih pada’
·         Takuti, ‘merasa takut pada’
5.4     Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘memberi atau membubuhi’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+bahan berian). Misal:
·         Garami, ‘beri garam pada’
·         Nasihati, ‘beri nasihat pada’
5.5    Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘jadikan’ atau ‘sebabkan’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+keadaan) atau (+sifat). Contoh :
·         Lengkapi, ‘jadikan lengkap’
·         Jauhi, ‘jadikan jauh’
5.6    Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal ‘lakukan pada’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+tempat). Missal :
·         Tulisi, lakukan tulis pada’
·         Tanggapi, ‘lakukan tanggap pada’
Catatan!!
Sufiks –i tidak dapat dibubuhkan pada bentuk dasar yang diakhiri vikao I atau diftong ai, jadi bentuk-bentuk ‘mandii’, ‘pergii’, belii’, dan ‘cabaii’ tidak berterima.
  1. Verba berprefiks per-
Verba berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba berprefiks per- dapat digunakan dalam :
(1)   kalimat imperative. Misalnya :
·         persingkat bicaramu!
·         Perpanjang dulu KTP-mu!
(2)   Kalimat pasif yang berpola : (aspek) + pelaku + verba :
·         Penjagaan akan kami perketat nanti malam.
·         Masjid ini akan kami perluas kea rah timur.
(3)   Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola : yang + aspek + pelaku + verba. Missal :
·         Saluran yang telah kami perdalam kini telah dangkal lagi.
·         Mobil yang belum lama kami perbaiki mogok lagi.
6.1    Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘jadikan lebih’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kesehatan) atau (+situasi). Contoh :
·         Pertinggi, ‘jadikan lebih tinggi’
·         Perlebar, ‘jadikan lebih lebar’
6.2    Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘anggap sebagai’ atau ‘jadikan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki kompone makna (+sifat khas). Contoh :
·         Peristri, ‘jadikan istri’
·         Peranak, ‘jadikan anak’
6.3    Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘bagi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah) dan (+bilangan). Contoh :
·         Perdua, ‘bagi dua’
·         Pertiga, ‘bagi tiga’
  1. Verba berkonfiks per-kan
Verba berkonfiks per-kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me-, berprefiks di-, berprefiks ter-). Verba berkonfiks per-kan digunakan dalam :
(1)   kalimat imperative. Missal:
·         persiapkan dulu bahan-bahanya!
·         Jangan perdebatkan lagi masalah itu!
(2)   Kalimat pasif yang predikatnay berpola : (Aspek) + pelaku + verba. Contoh :
·         Masalah itu akan kami pertanyakan lagi.
·         Ususlmu itu sedang kami pertimbangkan.
(3)   Keteragan tambahan pada subjek atau objek yang berpola pada : yang + (aspek) + pelaku. Contoh :
·         Tarian yang sudah mereka pertunjukkan akan di ulang lagi.
·         Film yang hendak mereka persembahkan perlu disensor dulu.
7.1    Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan bahan per-an’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kegiatan). Contoh :
·         Perdebatkan, ‘jadikah bahan perdebatan’
·         Pertanyakan, ‘jadikan bahan pertanyaan’
7.2    Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan supaya’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan). Contoh :
·         Persamakan, ‘lakukan supaya sama’
·         Pertegas, ‘lakukan supaya tegas’
7.3    Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan me-‘
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan). Contoh :
·         Perdengarkan, ‘jadikan orang lain mendengar’
·         Perlihatkan, jadikan orang lain melihat’
7.4    Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘’jadikan ber-‘
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kejadian). Contoh :
·         Perhubungkan, ‘jadikan berhubungan’
·         Pergunsksn, ‘jadikan berguna’
  1. Verba berkonfiks per-i
Verba berkonfiks per-I adalah verba yang dapat menjadi pangal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me- inflektif, di- inflektif atau ter- inflektif). Verba berkonfiks per-i digunakan dalam :
(1)   Kalimat imperative. Contoh :
·         Perbaiki dulu sepeda ini!
·         Pergaulilah istrimu dengan baik!
(2)   Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba. Contoh :
·         Mobil itu baru kita perbaiki.
·         Tanah ini masih mereka persengkatai.
(3)   Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba.contoh :
·         Rumah yang baru kami perbaiki terkena gempa.
·         Kasihan sekali anak-anak yang mereka perdayai itu.
8.1    Verba berkonfiks per-i memiliki makna gramatikal ‘lakukan supaya jadi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan). Contoh :
·         Perlengkapi, ‘lakukan supaya jadi lengkap’
·         Perbarui, ‘lakukan supaya jadi baru’
8.2    Verba berkonfiks per-i memiliki makna gramatikal ‘lakukan pada objeknya’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+lokasi). Contoh :
·         Persetujui, ‘lakukan setuju pada objeknya’
·         Persepakati, ‘lakukan sepakat pada objeknya’
  1. Verba berkonfiks me-
Dapat berbentuk me-,mem-,men-,meny-,meng-, dan menge-. Bentuk atau alomorf me- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem r,I,w,y,m,n,ny,dan ng. contoh :
Merakit
Melekat
Mewarisi
meyakini
memerah
menanti
merawat
menyala
9.1 Verba berprefiks me- inflektif
9.1.1        Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal  ′melakukan (dasar)′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh: membeli, menulis, membaca.
9.1.2        Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal  ′melakukan kerja dengan alat′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ alat). Contoh: mengikir, memahat,  mengail, merantai, mengunci.
9.1.3        Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal  ′melakukan kerja dengan bahan′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ bahan). Contoh: mengapur,  mengecat, mengelem, menyemen.
9.1.4           Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal  ′membuat dasar′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ benda hasil). Contoh: menyambal, menumis, menggambar.
9.2     Verba berprefiks me-derivatif
9.2.1        Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal makan, minum, mengisap apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman) atau (+ isapan). Contoh: merokok, menyate, menyoto.
9.2.2        Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal mengeluarkan (dasar) apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (bunyi) atau (+ suara). Contoh:  mengeong, mengaum.
9.2.3        Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal menjadi (dasar) apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan, ) atau (+ warna) atau (+ bentuk) atau (+ situasi). Contoh :  menguning, mengecil, membesar.
9.2.4        Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal menjadi seperti apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sifat khas). Contoh: membatu, membaja, mengarang, mengapur, menyemak.
9.2.5        Verba berprefiks me- derivatif menuju. Contoh : menepi, mengutara, mendarat, mengudara, melangit.
9.2.6           Verba berprefiks me- derivatif memperingati. Contoh : meniga hari, menujuh hari, menujuh bulan, menyeratus hari, menyeribu hari.
  1. Verba berprefiks di-hhayayg

Verba berkonfiks ke-an
            Verba berkonfiks ke-an termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan ke dalam verba aktif, seperti verba pasif di-dan verba pasif ter- makna gramatikal yang dimilikinya:
1. Terkena, menderita atau mengalami
2. agak bersifat.
Verba berkonfiks ke-an memiliki makna gramatikal ‘terkena, menderita, mengalami (dasar)’apabila untuk dasarnya memiliki komponen makna (+ peristiwa alam) atau (+hal yang tdidak enak).
Contoh:           Kebanjiran, artinya ‘terkena banjir’.
Kebakaran, artinya ‘menderita bakar’.
Kedinginan, artinya ‘menderita dingin’.
Kehausan, artinya ‘menderita haus’.
Kecopetan, artinya ‘terkena copet’.
Verba berkonfiks ke-an memiliki makna gramatikal ágak (dasar)’apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ warna).
Contoh:           Kehijauan, artinya ‘agak hijau’.
Kemerahan, artinya ‘agak merah’.
Kebiruan, artinya ‘agak biru’.
Kehitaman, artinya ‘agak hitam’.
Kekuningan, artinya ‘agak kuning’.
Perlu dicatat, didalam pemakaian  lazim disertai dengan nama warna lain depannya dan bentuk reduplikasi.
Contoh :          Hijau kekuningan atau hijau kekuning-kuningan.
Merah kehitaman atau merah kehitam-hitaman.
Biru kemerahan atau biru kemerah-merahan.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia ( Pendekatan Proses). Jakarta: Rinika Cipta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar