Nama :
Hesti Ambarwati
Kelas :
PBSI 2016 A
NIM : 166054
KONSEP DASAR
PROSES MORFOLOGIS
A.
PENGERTIAN
PROSES MORFOLOGIS
Proses morfologis
adalah suatu proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui
pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), penggulangan (dalam proses
reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses
akronimisasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi). (Chaer,
abdul:2008)
Proses morfologis
melibatkan komponen:
1.
Bentuk
dasar
2.
Alat
pembentuk (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi).
3.
Makna
gramatikal.
4.
Hasil
proses pembentukan. (Chaer, abdul:2008)
B.
CIRI
SUATU KATA YANG MENGALAMI PROSES MORFOLOGIS
Menurut Muslich,
masnur:2010 berikut merupakan ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis:
1.
Berfungsi
sebagai tempat penggabungan dan berfungsi sebagai penggabung.
Contoh:
morfem
sebagai tempat penggabungan {tulis},
{bangun},{murid}, dan {gelap}.
Morfem
sebagai penggabung {meN-},{peN-an},{ulang}, dan {gulita}
2.
Bentuk
dasar tidak selalu bermorfem tunggal, tetapi mungkin dapat berupa morfem kompleks.
Contoh:
Bentuk
dasar membelajarkan adalah belajar.
Bentuk
dasar bersusah paya adalah susah
paya.
3.
Berdasarkan
wujudnya, bentuk dasar dapat berupa pokok kata, bahkan berupa kelompok kata.
Contoh:
Bentuk
kata menemukan, berjuang, dan perhubungan
adalah pokok kata temu, juang, dan
hubung.
Bentuk
kata mencangkul, perbaikan, dan disatukan adalah kata cangkul, baik dan satu.
Bentuk
kata mengesampingkan, ketidakmampuan, dan
dikemukakan adalah kelompok kata ke samping, tidak mampu, dan ke muka.
4.
Penggabungan
atau perpaduan morfem-morfem yang
mengalami perubahan arti.
Contoh:
Bentuk
dasar cangkul setelah digabungi
morfem {meN-}, sehingga menjadi mencangkul yang berarti ‘melakukan
pekerjaan dengan alat cangkul’.
Bentuk
dasar juang setelah digabungi morfem
{ber-}, sehingga menjadi berjuang
yang berarti ‘melakukan perjuangan juang’.
5.
Perpaduan
bentuk dasar dan afiks.
Contoh:
{meN-} menjadi {mem-}. Penyesuaian ini didasari atas
sifat bunyi awal bentuk dasarnya. Karena bentuk dasar bantu adalah bilabial
(bunyi bibir), bunyi akhir afiks {meN-}
juga menyesuaikan diri menjadi bunyi nasal bilabial sehingga menjadi mem-
C.
MACAM-MACAM
PROSES MORFOLOGIS
Menurut Muslich,
masnur:2010 dalam Bahasa Indonesia, perisitiwa kata ada tiga macam yaitu:
1.
Pembentukan
kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar.
Contoh:
Menulis terbentuk dari
bentuk dasar tulis dan morfem imbuhan
{meN-}.
Pembangunan terbentuk dari
bentuk dasar bangun dan morfem
imbuhan {peN-an}
2.
Pembentukan
kata dengan mengulan bentuk dasar
Contoh:
Murid-murid dibentuk dari
morfem {ulang}
Diberi-berikan dibentuk dari
bentuk dasar diberikan dan morfem {ulang}
3.
Pembentukan
kata dengan menggabungkan dua atau lebih bentuk dasar.
Contoh:
Meja hijau terbentuk dari
bentuk dasar meja dan hijau.
Tinggal landas terbentuk dari bentuk
dasar tinggal dan landas.
D.
MAKNA
GRAMATIKAL
Makna leksikal
adalah makna yang secara inheren dimiliki oleh setiap bentuk dasar (morfem
dasar atau akar). Misalnya makna leksikal akar
kuda adalah ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Dalam
kalimat ‘di kebun binatang itu ada tiga ekor buaya’ maka kata buaya makna leksikalnya dapat ditemui.
Berbeda dengan kalimat ‘dasar buaya, ibunya sendiri ditipu’, maka kata buaya dalam kalimat itu tidak bermakna
leksikal. (Chaer, abdul:2008)
Makna gramatikal
baru muncul dalam suatu proses gramatikal, baik proses morfologis maupun proses
sintaksis. Misalnya dalam proses prefiksasi ber-
pada dasar dasi muncul makna
gramatikal ‘memakai (dasi)’, dalam proses prefiksasi me- pada dasar batu
muncul makna gramatikal ‘menjadi seperti (batu)’, dan dalam proses proses
komposisi dasar sate dengan ayam menjadi bentuk sate ayam muncul makna gramatikal ‘sate yang bahannya daging
(ayam)’. (Chaer, abdul:2008)
Makna gramatikal
mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar
yang terlibat dalam proses pembentukan kata. Setiap makna gramatikal dari suatu
proses morfologi akan menampakan makna atau bentuk dasarnya, seperti bentuk berdasi makna gramatikalnya ‘memakai
dasi’. (Chaer, abdul:2008)
E.
HASIL
PROSES PEMBENTUKAN
Proses morfologis
atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal.Bentuk
dan makna gramatikal merupakan dua hal yang berkaitan erat, bentuk merupakan
wujud fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk
itu. (Chaer, abdul:2008)
F.
PEMBENTUKAN
KATA DILUAR PROSES MORFOLOGIS
Menurut Muslich,
masnur:2010 proses morfologis mencatat hal-hal deskriptif dalam pembentukan
kata-kata (baru):
1.
Akronim
yaitu kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagaian lain
yang itulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (KBBI)
Contoh:
Pusdiklat (pusat Pendidikan
dan pelatihan)
Tongpes (kantong kempes)
2.
Abreviasi
adalah pemendekan bentuk sebagai pengganti bentuk yang lengkap(KBBI)
Contoh:
PPP
(Partai Persatuan Pembangunan)
IkIP
(Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
3.
Abreviakronim
adalah gabungan antara akronim dengan abreviasi.
Contoh:
Polri
(Polisi Republik Indonesia)
Pemilu
(emilihan umum)
4.
Kontraksi
yaitu pengerutan (sehingga menjadi berkurang panjangnya) (KBBI).
Contoh:
Begitu
(bagai itu) begini
(bagai ini)
5.
Kliping
adalah pengambilan suku khusus dalam kata yang selanjutnya dianggap sebagai
kata baru.
Contoh:
Influenza menjadi flu
Purnawirawan menjadi pur
Professional menjadi prof
6.
Afiksasi
pungutan
Contoh:
Anti menjadi antikomunis, antikekerasan
Non menjadi nonformal, non-Amerika
Swa menjadi swasembada, swadaya
DAFTAR
RUJUKAN
Chaer,
abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia
(Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar